Opini
Opini: Altar yang Berdebu
Tubuh perempuan akhirnya berubah menjadi arsip diam dari luka sosial yang tidak berani diakui masyarakat.
Kita rajin membersihkan altar gereja, tetapi lambat membersihkan budaya diam yang membunuh perempuan secara perlahan.
Menyelamatkan Kehidupan Bukan Citra
Tetapi tulisan ini tidak boleh berhenti pada kemarahan moral. Sebab solusi persoalan ini bukan sekadar mempermalukan laki laki atau mengecam budaya. Kita membutuhkan perubahan cara pandang yang lebih mendasar.
Pertama, HIV harus dipindahkan dari ruang “aib moral” ke ruang “keberanian kesehatan publik”.
Pemeriksaan HIV tidak boleh lagi diperlakukan seperti pengakuan dosa sosial. Tes kesehatan harus dipahami sebagai bentuk tanggung jawab kasih terhadap pasangan dan keluarga.
Pemerintah daerah, lembaga kesehatan dan gereja perlu membangun gerakan deteksi dini berbasis keluarga dan komunitas.
Pemeriksaan kesehatan reproduksi harus hadir sedekat mungkin dengan masyarakat, bukan hanya di rumah sakit, tetapi juga melalui pelayanan pastoral kesehatan, konseling keluarga dan edukasi publik yang manusiawi.
Kedua, gereja dan institusi agama harus berhenti menjadi pengadilan moral yang hanya pandai berbicara tentang dosa seksual secara abstrak.
Gereja harus menjadi ruang aman bagi percakapan tentang tubuh, trauma, kesehatan reproduksi, relasi kuasa dalam rumah tangga dan luka psikologis perempuan.
Jika gereja berani memberkati pernikahan, maka gereja juga harus berani melindungi kehidupan yang ada di dalam pernikahan itu.
Ketiga, pemerintah daerah dan lembaga pendidikan perlu membangun pendidikan kesehatan reproduksi berbasis komunitas yang sensitif budaya tetapi tetap jujur secara ilmiah.
Selama seksualitas terus diperlakukan hanya sebagai wilayah tabu dan rasa malu, maka masyarakat akan terus kalah oleh keheningan.
Keempat, laki laki harus mulai diajar bahwa kesetiaan bukan sekadar tuntutan bagi perempuan. Kesetiaan adalah keberanian moral menjaga kehidupan orang yang dipercayakan Tuhan kepada kita.
Mungkin inilah refleksi paling menyakitkan dari semuanya: tubuh perempuan di NTT terlalu lama dipaksa menjadi benteng moral masyarakat, tetapi tidak selalu dilindungi ketika benteng itu mulai retak.
Padahal Alkitab mengatakan tubuh adalah bait Allah. Tetapi jika kita jujur, kita terlalu sering memahami ayat itu hanya sebagai alat mengontrol moralitas seksual perempuan, bukan panggilan untuk melindungi tubuh manusia dari pengkhianatan, ketidakadilan dan luka sosial.
Kita rajin membersihkan altar gereja, tetapi lambat membersihkan ketakutan yang membuat perempuan menderita sendirian. Dan mungkin suatu hari nanti, ketika masyarakat ini benar benar berani jujur terhadap lukanya sendiri, kita akan sadar bahwa yang paling berdebu bukanlah altar di gereja.
Melainkan hati nurani kita yang terlalu lama takut menyentuh tubuh manusia yang terluka. (*)
Daftar Rujukan
- Foucault, M. (1978). The history of sexuality: An introduction (Vol. 1). Pantheon Books.
- Goffman, E. (1963). Stigma: Notes on the management of spoiled identity. Prentice Hall.
- Gupta, G. R., Parkhurst, J. O., Ogden, J. A., Aggleton, P., & Mahal, A. (2008). Structural approaches to HIV prevention. The Lancet, 372(9640), 764–775. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(08)60883-1
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Laporan perkembangan HIV/AIDS dan penyakit infeksi menular seksual triwulan IV tahun 2024. https://siha.kemkes.go.id
- Prokopim Kota Kupang. (2025). Wali Kota Kupang dorong penguatan edukasi HIV/AIDS di sekolah dan lingkungan masyarakat. https://prokopim.kupangkota.go.id/site-berita/read/92-wali-kota-kupang-dorong-penguatan-edukasi-hiv-aids-di-sekolah-dan-lingkungan-masyarakat
- Ruether, R. R. (1993). Sexism and God-talk: Toward a feminist theology. Beacon Press.
- Schüssler Fiorenza, E. (1983). In memory of her: A feminist theological reconstruction of Christian origins. Crossroad.
- UNAIDS. (2023). The path that ends AIDS: UNAIDS global AIDS update 2023. https://www.unaids.org/en/resources/documents/2023/global-aids-update-2023
- Utami, R., Nurhidayah, I., & Hidayati, N. O. (2021). Internalized stigma among women living with HIV/AIDS in Indonesia. The 7th International Conference on Public Health. https://doi.org/10.26911/the7thicph.03.64
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/John-Mozes-Hendrik-Wadu-Neru-06.jpg)