Opini
Opini: Altar yang Berdebu
Tubuh perempuan akhirnya berubah menjadi arsip diam dari luka sosial yang tidak berani diakui masyarakat.
Artinya, masalahnya bukan hanya pada virus, tetapi pada sistem sosial yang membuat perempuan sulit mempertanyakan kesetiaan, sulit meminta pemeriksaan kesehatan, sulit berbicara tentang tubuhnya sendiri dan akhirnya dipaksa memikul akibat dari relasi kuasa yang timpang.
Tubuh perempuan akhirnya berubah menjadi arsip diam dari luka sosial yang tidak berani diakui masyarakat.
Patriarki yang Berdoa
Filsuf Prancis, Michel Foucault melihat tubuh manusia sebagai arena kuasa. Tubuh bukan hanya realitas biologis, tetapi tempat norma sosial, agama, rasa malu dan relasi kuasa bekerja secara diam diam (Foucault, 1978).
Dalam konteks kita, tubuh perempuan sering kali menjadi tempat masyarakat menyimpan dosa yang tidak ingin diakuinya sendiri.
Perempuan diminta menjaga kesucian rumah tangga, tetapi laki laki tidak selalu diajar menjaga kejujuran dengan kadar yang sama.
Perempuan dibebani menjaga moral keluarga, sementara pengkhianatan laki laki sering diperlakukan sebagai “kelemahan biasa”.
Hal yang disebut aib adalah perceraian, tetapi yang disebut kewajaran adalah suami yang diam diam membawa pengkhianatan pulang ke rumah.
Baca juga: Opini: Lemahnya SPI- Pintu Masuk Penyimpangan Anggaran Daerah
Yang dijaga adalah nama baik keluarga, tetapi yang dibiarkan hancur adalah tubuh perempuan. Dan yang membuat semuanya jauh lebih tragis adalah kenyataan bahwa sistem tersebut sering dibungkus dengan bahasa agama.
Saya melihat ada banyak altar yang tampak bersih pada hari Minggu, tetapi dipenuhi debu pengkhianatan yang tidak pernah sungguh sungguh dibicarakan.
Ada laki laki yang terlihat saleh di depan mimbar, tetapi membawa maut perlahan ke tempat tidur rumahnya sendiri.
Ada keluarga yang tampak harmonis di depan publik, tetapi diam diam hidup dalam ketakutan dan luka yang tidak pernah diakui.
Satire paling menyakitkan dari masyarakat kita mungkin adalah ini: kita lebih takut gosip tetangga daripada kematian yang sedang tumbuh diam diam di dalam rumah.
Budaya malu di NTT memperparah semuanya. Banyak keluarga lebih takut kehilangan reputasi sosial daripada kehilangan kesehatan. Banyak perempuan memilih diam karena takut dianggap gagal menjaga rumah tangga.
Banyak laki laki merasa pengakuan adalah ancaman terhadap harga dirinya. Akibatnya, virus bergerak lebih cepat daripada kejujuran.
Erving Goffman menjelaskan stigma sebagai proses sosial yang membuat seseorang kehilangan penerimaan sosial karena identitas tertentu yang dianggap memalukan (Goffman, 1963).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/John-Mozes-Hendrik-Wadu-Neru-06.jpg)