Opini
Opini: Altar yang Berdebu
Tubuh perempuan akhirnya berubah menjadi arsip diam dari luka sosial yang tidak berani diakui masyarakat.
Menghitung Luka Kristus pada Rahim Ibu-Ibu yang Dikhianati Kesalehan Palsu
Oleh: John Mozes Hendrik Wadu Neru
Pendeta GMIT yang berkarya di Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur.
e-Mail: johnmhwaduneru@gmail.com
POS-KUPANG.COM - Saya tidak mulai dari statistik. Saya mulai dari tubuh perempuan yang perlahan kehilangan rasa aman di rumahnya sendiri.
Saya membayangkan seorang ibu di Kota Kupang yang tetap bangun sebelum matahari muncul, menyiapkan sarapan anak anaknya, lalu diam diam menyimpan hasil pemeriksaan HIV di dalam lemari kayu rumahnya. Tidak ada yang tahu.
Tetangga tetap menyapanya sebagai “mama yang baik”. Gereja tetap melihatnya sebagai perempuan yang rajin beribadah. Tetapi tubuhnya sedang memikul sesuatu yang bahkan tidak ia ciptakan sendiri.
Baca juga: Opini: Cahaya dari Timur
Di banyak rumah, perempuan diajarkan menjaga kesetiaan seperti menjaga altar suci.
Mereka diminta menjaga kehormatan keluarga, menjaga nama baik suami, menjaga moral anak anak, menjaga citra rumah tangga di depan masyarakat, bahkan menjaga wajah religius keluarga di hadapan gereja.
Tetapi ironisnya, tidak semua perempuan diberi ruang untuk mempertanyakan kejujuran yang hidup di dalam rumah itu sendiri.
Karena itu, jika kita jujur, isu HIV pada ibu rumah tangga di NTT bukan lagi sekadar isu kesehatan. Ini bukan sekadar penyakit.
Ini adalah arsip sosial tentang pengkhianatan yang dipulangkan ke rumah, lalu disembunyikan di balik budaya malu, patriarki religius dan kesalehan performatif yang terlalu sibuk menjaga reputasi moral daripada melindungi kehidupan.
Data Dinas Kesehatan Kota Kupang menunjukkan bahwa hingga tahun 2025 terdapat sekitar 2.539 kasus HIV/AIDS di Kota Kupang dan kelompok ibu rumah tangga menjadi salah satu kelompok dengan kasus tertinggi (Prokopim Kota Kupang, 2025).
Bahkan laporan nasional Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa perempuan dalam status menikah terus menjadi kelompok rentan karena relasi seksual dalam rumah tangga sering kali tidak memberi ruang negosiasi yang setara bagi perempuan (Kemenkes RI, 2024).
Angka ini seharusnya mengguncang kesadaran kita. Sebab ketika ibu rumah tangga mulai menjadi kelompok rentan HIV, maka persoalannya tidak lagi bisa dijelaskan hanya dengan narasi moral individual. Ada struktur sosial yang sedang gagal melindungi perempuan.
Menurut saya, di sinilah letak kebaruan persoalan ini yang jarang benar benar dibicarakan secara jujur. Selama ini HIV terlalu sering dibaca sebagai persoalan perilaku seksual.
Padahal banyak penelitian menunjukkan bahwa penularan HIV pada perempuan menikah berkaitan erat dengan ketimpangan relasi kuasa dalam rumah tangga, budaya patriarki, rendahnya kemampuan negosiasi seksual perempuan dan ketakutan sosial terhadap stigma (Gupta et al., 2008).
Artinya, masalahnya bukan hanya pada virus, tetapi pada sistem sosial yang membuat perempuan sulit mempertanyakan kesetiaan, sulit meminta pemeriksaan kesehatan, sulit berbicara tentang tubuhnya sendiri dan akhirnya dipaksa memikul akibat dari relasi kuasa yang timpang.
Tubuh perempuan akhirnya berubah menjadi arsip diam dari luka sosial yang tidak berani diakui masyarakat.
Patriarki yang Berdoa
Filsuf Prancis, Michel Foucault melihat tubuh manusia sebagai arena kuasa. Tubuh bukan hanya realitas biologis, tetapi tempat norma sosial, agama, rasa malu dan relasi kuasa bekerja secara diam diam (Foucault, 1978).
Dalam konteks kita, tubuh perempuan sering kali menjadi tempat masyarakat menyimpan dosa yang tidak ingin diakuinya sendiri.
Perempuan diminta menjaga kesucian rumah tangga, tetapi laki laki tidak selalu diajar menjaga kejujuran dengan kadar yang sama.
Perempuan dibebani menjaga moral keluarga, sementara pengkhianatan laki laki sering diperlakukan sebagai “kelemahan biasa”.
Hal yang disebut aib adalah perceraian, tetapi yang disebut kewajaran adalah suami yang diam diam membawa pengkhianatan pulang ke rumah.
Baca juga: Opini: Lemahnya SPI- Pintu Masuk Penyimpangan Anggaran Daerah
Yang dijaga adalah nama baik keluarga, tetapi yang dibiarkan hancur adalah tubuh perempuan. Dan yang membuat semuanya jauh lebih tragis adalah kenyataan bahwa sistem tersebut sering dibungkus dengan bahasa agama.
Saya melihat ada banyak altar yang tampak bersih pada hari Minggu, tetapi dipenuhi debu pengkhianatan yang tidak pernah sungguh sungguh dibicarakan.
Ada laki laki yang terlihat saleh di depan mimbar, tetapi membawa maut perlahan ke tempat tidur rumahnya sendiri.
Ada keluarga yang tampak harmonis di depan publik, tetapi diam diam hidup dalam ketakutan dan luka yang tidak pernah diakui.
Satire paling menyakitkan dari masyarakat kita mungkin adalah ini: kita lebih takut gosip tetangga daripada kematian yang sedang tumbuh diam diam di dalam rumah.
Budaya malu di NTT memperparah semuanya. Banyak keluarga lebih takut kehilangan reputasi sosial daripada kehilangan kesehatan. Banyak perempuan memilih diam karena takut dianggap gagal menjaga rumah tangga.
Banyak laki laki merasa pengakuan adalah ancaman terhadap harga dirinya. Akibatnya, virus bergerak lebih cepat daripada kejujuran.
Erving Goffman menjelaskan stigma sebagai proses sosial yang membuat seseorang kehilangan penerimaan sosial karena identitas tertentu yang dianggap memalukan (Goffman, 1963).
Dalam konteks HIV/AIDS, stigma membuat penderita tidak hanya mengalami sakit biologis, tetapi juga pengasingan sosial.
Penelitian UNAIDS (2023) menunjukkan bahwa stigma terhadap ODHA masih menjadi hambatan terbesar dalam deteksi dini dan pengobatan HIV di banyak negara berkembang.
Ketakutan terhadap penolakan sosial menyebabkan banyak perempuan terlambat memeriksakan diri atau bahkan memilih menyembunyikan diagnosis mereka.
Penelitian lain mengenai perempuan dengan HIV di Indonesia menunjukkan bahwa stigma internal menyebabkan depresi, kecemasan, kehilangan harga diri dan kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial (Utami et al., 2021).
Artinya, HIV tidak hanya menghancurkan tubuh biologis. Ia juga menghancurkan psikologi manusia.
Dan mungkin di sinilah kegagalan terbesar masyarakat kita: kita terlalu cepat mengubah HIV menjadi wacana moral, tetapi terlalu lambat membacanya sebagai tragedi relasi kuasa, trauma psikologis dan kegagalan budaya membangun kejujuran.
Kristus di Tubuh yang Distigma
Padahal jika kita membaca Injil dengan jujur, Yesus justru selalu bergerak mendekati tubuh tubuh yang distigma.
Kita sering membaca kisah perempuan yang sakit pendarahan disentuh dan dipulihkan oleh Yesus.
Tetapi yang sering kita lewatkan adalah keberanian Yesus menembus batas sosial dan religius demi memulihkan manusia yang dianggap najis oleh masyarakat.
Yesus tidak menjaga jarak demi mempertahankan citra kesalehan. Ia justru hadir di tempat tempat yang dihindari agama formal. Dan mungkin di sinilah pertanyaan paling penting harus diarahkan kepada diri kita sendiri: Apakah iman kita sungguh melindungi kehidupan, atau hanya melindungi reputasi moral?
Pertanyaan itu mengganggu karena memaksa kita melihat sesuatu yang selama ini disembunyikan: bahwa sebagian religiositas kita ternyata lebih sibuk menjaga citra daripada menyembuhkan luka.
Teologi feminis modern seperti yang dikembangkan Rosemary Radford Ruether menegaskan bahwa patriarki religius sering menjadikan tubuh perempuan sebagai objek kontrol moral, bukan subjek kemanusiaan penuh (Ruether, 1993).
Sementara Elisabeth Schüssler Fiorenza melihat bahwa pengalaman perempuan sering dihapus dari kesadaran teologis resmi sehingga agama kehilangan kemampuan mendengar luka nyata perempuan (Schüssler Fiorenza, 1983).
Saya kira di NTT, kritik ini menjadi sangat relevan. Kita terlalu sering memahami tubuh sebagai “bait Allah” hanya untuk mengontrol moralitas seksual perempuan, tetapi gagal membangun kesadaran bahwa tubuh manusia harus dilindungi dari pengkhianatan, kekerasan dan luka sosial.
Tubuh perempuan dipuji sebagai bait Allah ketika ia patuh. Tetapi tubuh yang terluka sering diperlakukan seperti ancaman terhadap reputasi komunitas. Ini ironi yang sangat menyakitkan.
Kita rajin membersihkan altar gereja, tetapi lambat membersihkan budaya diam yang membunuh perempuan secara perlahan.
Menyelamatkan Kehidupan Bukan Citra
Tetapi tulisan ini tidak boleh berhenti pada kemarahan moral. Sebab solusi persoalan ini bukan sekadar mempermalukan laki laki atau mengecam budaya. Kita membutuhkan perubahan cara pandang yang lebih mendasar.
Pertama, HIV harus dipindahkan dari ruang “aib moral” ke ruang “keberanian kesehatan publik”.
Pemeriksaan HIV tidak boleh lagi diperlakukan seperti pengakuan dosa sosial. Tes kesehatan harus dipahami sebagai bentuk tanggung jawab kasih terhadap pasangan dan keluarga.
Pemerintah daerah, lembaga kesehatan dan gereja perlu membangun gerakan deteksi dini berbasis keluarga dan komunitas.
Pemeriksaan kesehatan reproduksi harus hadir sedekat mungkin dengan masyarakat, bukan hanya di rumah sakit, tetapi juga melalui pelayanan pastoral kesehatan, konseling keluarga dan edukasi publik yang manusiawi.
Kedua, gereja dan institusi agama harus berhenti menjadi pengadilan moral yang hanya pandai berbicara tentang dosa seksual secara abstrak.
Gereja harus menjadi ruang aman bagi percakapan tentang tubuh, trauma, kesehatan reproduksi, relasi kuasa dalam rumah tangga dan luka psikologis perempuan.
Jika gereja berani memberkati pernikahan, maka gereja juga harus berani melindungi kehidupan yang ada di dalam pernikahan itu.
Ketiga, pemerintah daerah dan lembaga pendidikan perlu membangun pendidikan kesehatan reproduksi berbasis komunitas yang sensitif budaya tetapi tetap jujur secara ilmiah.
Selama seksualitas terus diperlakukan hanya sebagai wilayah tabu dan rasa malu, maka masyarakat akan terus kalah oleh keheningan.
Keempat, laki laki harus mulai diajar bahwa kesetiaan bukan sekadar tuntutan bagi perempuan. Kesetiaan adalah keberanian moral menjaga kehidupan orang yang dipercayakan Tuhan kepada kita.
Mungkin inilah refleksi paling menyakitkan dari semuanya: tubuh perempuan di NTT terlalu lama dipaksa menjadi benteng moral masyarakat, tetapi tidak selalu dilindungi ketika benteng itu mulai retak.
Padahal Alkitab mengatakan tubuh adalah bait Allah. Tetapi jika kita jujur, kita terlalu sering memahami ayat itu hanya sebagai alat mengontrol moralitas seksual perempuan, bukan panggilan untuk melindungi tubuh manusia dari pengkhianatan, ketidakadilan dan luka sosial.
Kita rajin membersihkan altar gereja, tetapi lambat membersihkan ketakutan yang membuat perempuan menderita sendirian. Dan mungkin suatu hari nanti, ketika masyarakat ini benar benar berani jujur terhadap lukanya sendiri, kita akan sadar bahwa yang paling berdebu bukanlah altar di gereja.
Melainkan hati nurani kita yang terlalu lama takut menyentuh tubuh manusia yang terluka. (*)
Daftar Rujukan
- Foucault, M. (1978). The history of sexuality: An introduction (Vol. 1). Pantheon Books.
- Goffman, E. (1963). Stigma: Notes on the management of spoiled identity. Prentice Hall.
- Gupta, G. R., Parkhurst, J. O., Ogden, J. A., Aggleton, P., & Mahal, A. (2008). Structural approaches to HIV prevention. The Lancet, 372(9640), 764–775. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(08)60883-1
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Laporan perkembangan HIV/AIDS dan penyakit infeksi menular seksual triwulan IV tahun 2024. https://siha.kemkes.go.id
- Prokopim Kota Kupang. (2025). Wali Kota Kupang dorong penguatan edukasi HIV/AIDS di sekolah dan lingkungan masyarakat. https://prokopim.kupangkota.go.id/site-berita/read/92-wali-kota-kupang-dorong-penguatan-edukasi-hiv-aids-di-sekolah-dan-lingkungan-masyarakat
- Ruether, R. R. (1993). Sexism and God-talk: Toward a feminist theology. Beacon Press.
- Schüssler Fiorenza, E. (1983). In memory of her: A feminist theological reconstruction of Christian origins. Crossroad.
- UNAIDS. (2023). The path that ends AIDS: UNAIDS global AIDS update 2023. https://www.unaids.org/en/resources/documents/2023/global-aids-update-2023
- Utami, R., Nurhidayah, I., & Hidayati, N. O. (2021). Internalized stigma among women living with HIV/AIDS in Indonesia. The 7th International Conference on Public Health. https://doi.org/10.26911/the7thicph.03.64
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/John-Mozes-Hendrik-Wadu-Neru-06.jpg)