Rabu, 13 Mei 2026

Opini

Opini: Altar yang Berdebu

Tubuh perempuan akhirnya berubah menjadi arsip diam dari luka sosial yang tidak berani diakui masyarakat.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO
John Mozes Hendrik Wadu Neru 

Dalam konteks HIV/AIDS, stigma membuat penderita tidak hanya mengalami sakit biologis, tetapi juga pengasingan sosial.

Penelitian UNAIDS (2023) menunjukkan bahwa stigma terhadap ODHA masih menjadi hambatan terbesar dalam deteksi dini dan pengobatan HIV di banyak negara berkembang. 

Ketakutan terhadap penolakan sosial menyebabkan banyak perempuan terlambat memeriksakan diri atau bahkan memilih menyembunyikan diagnosis mereka. 

Penelitian lain mengenai perempuan dengan HIV di Indonesia menunjukkan bahwa stigma internal menyebabkan depresi, kecemasan, kehilangan harga diri dan kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial (Utami et al., 2021).  

Artinya, HIV tidak hanya menghancurkan tubuh biologis. Ia juga menghancurkan psikologi manusia.

Dan mungkin di sinilah kegagalan terbesar masyarakat kita: kita terlalu cepat mengubah HIV menjadi wacana moral, tetapi terlalu lambat membacanya sebagai tragedi relasi kuasa, trauma psikologis dan kegagalan budaya membangun kejujuran.

Kristus di Tubuh yang Distigma

Padahal jika kita membaca Injil dengan jujur, Yesus justru selalu bergerak mendekati tubuh tubuh yang distigma.

Kita sering membaca kisah perempuan yang sakit pendarahan disentuh dan dipulihkan oleh Yesus. 

Tetapi yang sering kita lewatkan adalah keberanian Yesus menembus batas sosial dan religius demi memulihkan manusia yang dianggap najis oleh masyarakat. 

Yesus tidak menjaga jarak demi mempertahankan citra kesalehan. Ia justru hadir di tempat tempat yang dihindari agama formal. Dan mungkin di sinilah pertanyaan paling penting harus diarahkan kepada diri kita sendiri: Apakah iman kita sungguh melindungi kehidupan, atau hanya melindungi reputasi moral?

Pertanyaan itu mengganggu karena memaksa kita melihat sesuatu yang selama ini disembunyikan: bahwa sebagian religiositas kita ternyata lebih sibuk menjaga citra daripada menyembuhkan luka.

Teologi feminis modern seperti yang dikembangkan Rosemary Radford Ruether menegaskan bahwa patriarki religius sering menjadikan tubuh perempuan sebagai objek kontrol moral, bukan subjek kemanusiaan penuh (Ruether, 1993).

Sementara Elisabeth Schüssler Fiorenza melihat bahwa pengalaman perempuan sering dihapus dari kesadaran teologis resmi sehingga agama kehilangan kemampuan mendengar luka nyata perempuan (Schüssler Fiorenza, 1983).

Saya kira di NTT, kritik ini menjadi sangat relevan. Kita terlalu sering memahami tubuh sebagai “bait Allah” hanya untuk mengontrol moralitas seksual perempuan, tetapi gagal membangun kesadaran bahwa tubuh manusia harus dilindungi dari pengkhianatan, kekerasan dan luka sosial.

Tubuh perempuan dipuji sebagai bait Allah ketika ia patuh. Tetapi tubuh yang terluka sering diperlakukan seperti ancaman terhadap reputasi komunitas. Ini ironi yang sangat menyakitkan. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved