Opini
Opini: Membentuk Kesadaran Berbahasa Inggris Sejak Usia Dini
Anak-anak Indonesia memang belajar bahasa Inggris, tetapi pembelajaran itu belum sungguh-sungguh membentuk budaya tutur.
Bahasa Inggris akhirnya hanya menjadi beban kurikulum baru, bukan alat pembebasan intelektual.
Yang juga perlu ditegaskan, bahasa Inggris tidak boleh dipahami sebagai ancaman bagi identitas budaya. Ketakutan semacam itu terlalu dangkal untuk menghadapi dunia modern.
Bahasa Inggris hanyalah alat untuk memasuki percakapan global. Anak Indonesia tidak akan kehilangan jati diri hanya karena mampu berbicara bahasa Inggris.
Justru bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu berdialog dengan dunia tanpa kehilangan akar budayanya sendiri.
Pada akhirnya, persoalan ini bukan sekadar soal penambahan mata pelajaran baru di tingkat SD kelas 3. Ini adalah pertarungan menentukan posisi Indonesia di masa depan.
Apakah bangsa ini ingin melahirkan generasi yang mampu menciptakan gagasan dan teknologi, atau terus menjadi pasar besar yang hanya mengonsumsi hasil pemikiran bangsa lain?
Di era AI, ketertinggalan tidak lagi hanya lahir karena orang tidak sekolah, tetapi juga karena mereka tidak mampu memasuki bahasa tempat masa depan sedang ditulis. (*)
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
Apolonius Anas
Bahasa Inggris
Program Pendidikan Bahasa Inggris
Opini Pos Kupang
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
| Opini: Sepatu Pegiat Literasi di Atas Sepatu Presiden Jokowi |
|
|---|
| Opini: Seragam Putih Abu Abu dan Krisis Biografi Moral Generasi Digital di Kupang |
|
|---|
| Opini: Lapangan Kerja di Antara Data dan Denyut Kehidupan |
|
|---|
| Opini: Ketidakpatuhan Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah |
|
|---|
| Opini: Jangan Tunggu Kacau- Mengapa Lembaga Kita Gagal Mengelola Risiko? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Apolonius-Anas-06.jpg)