Senin, 11 Mei 2026

Opini

Opini: Membentuk Kesadaran Berbahasa Inggris Sejak Usia Dini

Anak-anak Indonesia memang belajar bahasa Inggris, tetapi pembelajaran itu belum sungguh-sungguh membentuk budaya tutur. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI APOLONIUS ANAS
Apolonius Anas 

Mereka mungkin tetap dapat menggunakan teknologi, tetapi berisiko hanya menjadi pengguna, bukan pencipta.

Baca juga: Opini: Sepatu Pegiat Literasi di Atas Sepatu Presiden Jokowi

Karena itu, keterlambatan belajar bahasa Inggris bukan lagi semata-mata persoalan akademik. Ini merupakan persoalan ketimpangan masa depan. 

Anak-anak yang memiliki akses ke kursus, internet, dan sekolah unggulan akan bergerak lebih cepat. 

Sementara itu, jutaan anak di daerah tertinggal berisiko semakin jauh dari peluang global. Dalam kondisi seperti ini, bahasa dapat berubah menjadi alat seleksi sosial baru.  

Siapa yang menguasainya memiliki akses lebih luas, sedangkan siapa yang tertinggal akan terus bergantung pada terjemahan dan pengetahuan sekunder.

Persoalan paling mendasar dalam pendidikan bahasa Inggris kita adalah budaya takut salah. 

Kesalahan tata bahasa dan pengucapan masih sering diperlakukan sebagai aib akademik, bukan bagian wajar dari proses belajar. 

Padahal, bahasa tumbuh dari keberanian mencoba. Tidak ada manusia yang lahir langsung fasih berbicara. Namun, pendidikan kita terlalu sering mematikan spontanitas anak sejak dini. 

Kita menghasilkan siswa yang patuh dan mampu menjawab soal, tetapi tidak cukup percaya diri untuk menyampaikan gagasan.

Di sinilah kebijakan wajib bahasa Inggris di SD perlu dibaca sebagai langkah penting, bahkan mendesak. 

Namun, kebijakan ini akan gagal jika hanya dijalankan sebagai proyek administratif. 

Melatih ribuan guru dan mencatat jumlah sekolah peserta program tidak otomatis menciptakan budaya belajar yang hidup. 

Hal yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa ruang kelas benar-benar berubah menjadi tempat anak berani mendengar, meniru, mencoba, salah, memperbaiki diri, dan akhirnya berbicara.

Bahaya terbesar dari kebijakan ini adalah jika bahasa Inggris kembali diajarkan dengan cara lama yang mekanis, kaku, menekan, dan terlalu berorientasi pada ujian. 

Jika itu terjadi, sekolah hanya akan memproduksi generasi baru yang mampu menjawab pilihan ganda, tetapi tetap takut berbicara kepada dunia. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved