Senin, 4 Mei 2026

Opini

Opini: Mutis dan Kita

Mutis harus dijaga dari pelbagai macam ancaman, apalagi ketika habitatnya disalahgunakan untuk mencari keuntungan dan kepentingan lain.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI BENI WEGO
Beni Wego 

Di sisi lain, produk-produk lokal seperti kopi, vanili, ubi-ubian dengan segala jenis, jeruk dengan segala jenis, cengkeh dan cendana dst. dapat meningkatkan income ekonomi lokal dan bukan tidak mungkin penduduk lokal dapat menjadi distributor. 

Dalam bukunya The Unsettling of America (2015), Wendel Berry mencatat bahwa salah satu sebab krisis ekologi adalah krisis karakter. 

Para petani bukan lagi ‘tuan’ atas pertanian. Pertanian diatur dan di kontrol oleh specialist. Mereka datang dengan rencana dan program yang dikembangkannya di suatu tempat tanpa hubungan dengan kehidupan dan realitas masyarakat lokal. 

Para specialist tidak peduli akan apa yang nanti dilakukan oleh para petani sesudah tanah dan sumber daya mereka diambil dan diformat secara scientific dan technologic. 

Studi atas Mutis dilakukan tanpa keikutsertaan dan melibatkan orang-orang lokal di sekitar wilayah pegunungan. Dengan itu sumber dan referensi budaya jauh dari pengembangan, menderita erosi budaya sampai pada krisis relevansi. 

Protes Masyarakat dan Kearifan Lokal 

Kontra terhadap Keputusan Menteri, masyarakat dari beberapa wilayah di Timor Tengah Utara terutama dari kampung-kampung melakukan protes. 

Mereka diterima oleh wakil rakyat yang memilih mereka. Dialog menghasilkan pembatalan rencana perubahan status Mutis. (PK 8 desember 2024)
 
Pertanyaannya apakah pembatalan tersebut menjamin kelangsungan kebertahanan hidup masyarakat lokal dan budayanya? 

Local genius (kearifan local) dikembangkan selama bertahun-tahun. Ia mengikuti dan melewati proses-proses budaya yang paling mungkin dan bisa diterima meskipun tidak secara luas. 

Protes masyarakat menunjukan secara kasatmata. Keputusan dari Ibu Kota negara  menciptakan implikasi budaya yang serius. 

Keputusan itu membawa input baru dengan paradigma asing atau bahkan menjelma menjadi pemaksaan (force) tanpa dialog. 

Meminjam bahasa Michael Dominic Taylor ‘apply whatever technological solutions that solve the material problem in the most economical way and that is socially acceptable and politically achievable.’ (The Foundation of Nature, Cascade Book 2020 p.46). 

Kita semakin jauh atau Mutis? (*)

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved