Breaking News
Senin, 4 Mei 2026

Opini

Opini: MBG Jangan “Hajar” Pemikiran Ki Hajar Dewantara

Pemerintah berpendapat bahwa pendidikan tidak boleh dipersempit hanya pada proses belajar-mengajar di kelas. Di sinilah konflik utamanya.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI APOLONIUS ANAS
Apolonius Anas 

MBG tidak salah jika dipahami sebagai dukungan terhadap kesiapan belajar. Ia menjadi problematis ketika ditempatkan terlalu besar dalam anggaran pendidikan hingga pos-pos yang langsung berkaitan dengan mutu pendidikan terdesak tanpa batas konseptual yang jelas.

Jika anggaran pendidikan terlalu banyak tercurah untuk MBG, maka yang terjadi adalah penyempitan fungsi pendidikan. 

Sekolah mungkin berhasil menjadi tempat distribusi makanan, tetapi kehilangan daya untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. 

Anggaran untuk peningkatan kompetensi guru, perbaikan ruang kelas, penyediaan buku, literasi, numerasi, laboratorium, teknologi pembelajaran, beasiswa, dan bantuan bagi siswa miskin dapat terpinggirkan. 

Anak mungkin datang ke sekolah dalam keadaan kenyang, tetapi tetap belajar dalam ruang kelas rusak, fasilitas terbatas, guru terbebani, dan proses pembelajaran yang belum tentu membebaskan pikirannya.

Pedagogi Nutrisional

Dari kerangka tersebut, MBG dapat dibaca sebagai gejala pergeseran makna pendidikan. 

Ketika pemenuhan gizi terlalu dominan dalam struktur anggaran pendidikan, muncul kecenderungan yang dapat disebut “pedagogi nutrisional”. 

Istilah ini menunjuk pada cara pandang yang menjadikan kebutuhan biologis sebagai pintu utama untuk membaca keberhasilan pendidikan. 

Tubuh menjadi titik awal intervensi, sementara nalar bergerak ke belakang. Anak dibuat kenyang, tetapi pertanyaan tentang kualitas berpikir, literasi, guru, sarana belajar, dan kedalaman pembelajaran berisiko kehilangan tempat utama. Tubuh anak memang harus dikuatkan, tetapi nalar mereka tidak boleh ditinggalkan.

Implikasinya nyata bagi siswa, guru, dan sekolah. Bagi siswa, MBG dapat membantu kesiapan fisik, meskipun dampaknya terhadap kualitas belajar masih perlu diuji secara terbuka dan berbasis data. 

Namun bila pendidikan terlalu terpusat pada program bantuan, anak berisiko lebih sering diposisikan sebagai penerima layanan daripada subjek yang berpikir. 

Bagi guru, tambahan program dapat menambah beban administratif dan teknis, terutama jika distribusi, pendataan, pengawasan, dan pelaporan ikut menempel pada kerja sekolah. 

Bagi sekolah, fungsi pedagogis dapat terdorong ke pinggir. Sekolah boleh menjadi tempat negara hadir, tetapi bukan panggung tempat makna pendidikan dipersempit.

MBG Tanpa Menghajar Pos Pendidikan Lain

Solusinya bukan menolak MBG secara radikal. Walapun pengalaman membuktikan banyak siswa yang keracunan akibat MBG. Yang dilakukan adalah menata ulang desain pembiayaannya jangan sampai menghancurkan pos anggaran lain. 

MBG sebaiknya ditempatkan sebagai program lintas sektor, bukan seluruhnya dibebankan pada anggaran pendidikan. 

Pembiayaannya dapat dibagi secara proporsional melalui pos kesehatan, perlindungan sosial, ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi lokal, dan pendidikan. 

Anggaran pendidikan tetap dapat mendukung bagian yang benar-benar berkaitan langsung dengan proses belajar, tetapi tidak boleh kehilangan prioritas utamanya untuk guru, sarana sekolah, kurikulum, literasi, numerasi, dan pemerataan akses. 

Dengan begitu, negara tetap dapat memastikan anak tidak lapar tanpa membuat pendidikan kehilangan jiwa pedagogisnya. 

Jika ini tetap dilakukan maka bukan hanya hajar yang diterima oleh pendidikan indonesia tetapi  Hardiknas 2026 seharusnya menjadi momen untuk kembali kepada pesan dasar Ki Hajar Dewantara yang menegaskan bahwa pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak. 

Yakni  menuntun segala kekuatan kodrat mereka agar sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan serta kebahagiaan setinggi-tingginya. 

Maka, pendidikan tidak boleh direduksi menjadi program yang berhasil hanya karena dapat dibagikan dan dihitung. 

MBG boleh hadir di sekolah sebagai penopang belajar, tetapi jangan sampai sekolah kehilangan jiwanya sebagai ruang penuntunan manusia. 

Negara boleh mengenyangkan perut anak, tetapi tidak boleh membiarkan nalar, karakter, dan kemerdekaan batinnya kelaparan. 

Sebab ketika pendidikan berhenti sebagai proses menuntun kodrat manusia, yang “dihajar” bukan hanya anggaran pendidikan, melainkan juga cita-cita Ki Hajar tentang manusia merdeka. 

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026. (*)

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved