Opini
Opini: MBG Jangan “Hajar” Pemikiran Ki Hajar Dewantara
Pemerintah berpendapat bahwa pendidikan tidak boleh dipersempit hanya pada proses belajar-mengajar di kelas. Di sinilah konflik utamanya.
Pendidikan Bukan Mekanisme Distribusi
Dalam perspektif Ki Hajar Dewantara, pendidikan bukan sekadar pengelolaan tubuh anak agar siap menerima pelajaran.
Pendidikan adalah proses menuntun segala kodrat anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai manusia dan anggota masyarakat.
Dalam semangat Tamansiswa, anak hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri, sementara pendidik bertugas merawat dan menuntun pertumbuhan itu.
Artinya, pendidikan tidak dimulai dari program negara, tetapi dari martabat anak sebagai subjek yang bertumbuh.
Sekolah bukan gudang distribusi kebijakan. Sekolah adalah ruang menuntun manusia menuju kemerdekaan.
Paulo Freire memperkuat pandangan itu melalui gagasan pendidikan sebagai praksis pembebasan. Freire menolak pendidikan yang menjadikan peserta didik sekadar wadah pasif untuk menerima sesuatu.
Pendidikan, baginya, harus membangkitkan kesadaran kritis agar manusia mampu membaca dan mengubah realitasnya. Jika sekolah terlalu sering diperlakukan sebagai titik salur program, relasi pendidikan berisiko berubah.
Murid menjadi penerima, guru menjadi operator, dan sekolah menjadi saluran distribusi. Pada titik itu, pendidikan kehilangan daya pembebasannya.
Gert Biesta juga memberi peringatan penting. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan peserta didik yang terampil atau mampu menyesuaikan diri dengan sistem.
Biesta berpendapat pendidikan memiliki tiga tujuan utama, yaitu qualification, socialization, dan subjectification.
Ranah terakhir sangat penting karena berkaitan dengan bagaimana peserta didik hadir sebagai subjek yang berpikir, memilih, dan bertanggung jawab, bukan sekadar objek intervensi kebijakan.
Dalam konteks MBG, pertanyaannya menjadi tajam: apakah peserta didik sedang dibentuk kesadarannya, atau hanya menjadi sasaran program yang keberhasilannya diukur dari kelancaran distribusi?
Freire dan Biesta membantu memperluas pembacaan kritis tersebut. Namun titik pijak utamanya tetap Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan adalah proses menuntun manusia, bukan menggantikan pertumbuhan manusia dengan proyek negara.
Karena itu, yang berpotensi “menghajar” pemikiran Ki Hajar bukanlah makanan bergizi itu sendiri, melainkan cara kebijakan tersebut menggeser pusat pendidikan dari pembentukan manusia menjadi mekanisme distribusi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Apolonius-Anas-06.jpg)