Sabtu, 2 Mei 2026

Opini

Opini: Ketidakpastian Buruh di Era Digital

Eksploitasi buruh digital semakin terlihat di era platform. Pekerja seperti pengemudi ojek online bergantung pada algoritma.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ELFRIDUS REBO ONA
Efridus Rebo Ona 

Masalah utama yang dihadapi buruh digital adalah tarif yang rendah dan potongan komisi yang besar. 

Kondisi ini membuat pendapatan mereka semakin berkurang dan menimbulkan rasa tidak adil. 

Akibatnya, banyak pekerja merasa perlu menyuarakan tuntutan agar kebijakan perusahaan lebih berpihak pada kesejahteraan buruh

Laporan Kompas mencatat tuntutan ini muncul karena pendapatan pengemudi semakin berkurang akibat kebijakan perusahaan yang sepihak.

Relasi kerja yang disebut kemitraan justru memperburuk keadaan. Buruh dianggap mitra independen, tetapi dalam praktiknya tidak memiliki posisi tawar. 

Tanpa kontrak kerja formal, buruh digital sulit menuntut hak dasar seperti jaminan kesehatan, pensiun, atau cuti. Kondisi ini menunjukkan lemahnya peran negara dalam melindungi buruh digital. 

Tanpa regulasi jelas, buruh platform tetap berada dalam posisi rentan. Perlindungan sosial bagi pekerja informal maupun digital masih lemah. 

Karena itu, dibutuhkan kebijakan baru yang mampu memberikan jaminan lebih baik dan menjawab tantangan di era digital

Ketimpangan Akses dan Kesenjangan Keterampilan

Transformasi digital memang membuka peluang kerja baru, tetapi tidak semua buruh bisa menikmatinya. 

Mereka yang tinggal di kota besar dengan internet stabil dan perangkat memadai lebih mudah memanfaatkan peluang digital. 

Sebaliknya, buruh di daerah dengan infrastruktur terbatas sering tertinggal. Akses digital antara wilayah perkotaan dan pedesaan masih belum merata. 

Kondisi ini membuat peluang kerja lebih mudah didapat di kota, sementara banyak pekerja di desa tertinggal dan kesempatannya semakin terbatas Selain akses, keterampilan juga sangat menentukan. 

Buruh yang memiliki kemampuan digital dasar seperti menguasai aplikasi, literasi data, dan bahasa asing lebih mudah beradaptasi. 

Namun, banyak buruh tradisional belum memiliki keterampilan tersebut. World Bank mencatat Indonesia menghadapi tantangan besar dalam meningkatkan keterampilan digital tenaga kerja, terutama di sektor informal.

Kesenjangan keterampilan ini bisa memperdalam ketidakadilan sosial. Buruh yang tidak mampu mengikuti perkembangan teknologi akan semakin tersisih dari pasar kerja. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved