Breaking News
Senin, 27 April 2026

Opini

Opini: Kerisauan Gubernur NTT dan Reformulasi Genta Belis

Kinerja siswa NTT di bidang literasi, numerasi dan bahasa Inggris berada di urutan terakhir nasional dari 38 provinsi. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI M.N ABA NUEN
M.N Aba Nuen 

Oleh: M.N. Aba Nuen
Guru SMAN Kualin Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Menulis buku Pendidikan di Mata Guru Pelosok (2020).

POS-KUPANG.COM - Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena, kembali menyampaikan kerisauannya soal rendahnya kemampuan literasi siswa di NTT

Seperti diberitakan koranntt.com edisi 14/3/ 2026, Gubernur Melki Laka Lena melontarkan fakta, yang harusnya membuat para pihak dalam ekosistem pendidikan tersentak. 

Politisi Partai Golkar ini membeberkan temuannya, dimana  sekitar 30 sampai 40 persen anak SMA, bermasalah dengan kemampuan baca, tulis, dan menghitung.

Sebelumnya, pada 15 Oktober 2025, saat berbicara dalam rapat Komite Pengarah Program INOVASI Provinsi NTT, Gubernur Laka Lena juga menyinggung rendahnya kemampuan literasi siswa NTT.

Baca juga: SMAN 1 Ende Jadi Pilot Project Gerakan Literasi Genta Belis

Seperti dilansir detik.com edisi 15/10/2025, pernyataan yang dilontarkan gubernur merujuk pada data, lebih dari 25 persen siswa SMA di NTT berada pada kategori literasi rendah dan hanya 24,7 persen sekolah yang tergolong baik.

Data Tes kemampuan Akademik (TKA) siswa SMA di NTT tahun 2025 yang dirilis kemendikdasmen, juga menunjukkan hasil minor. 

Kinerja siswa NTT di bidang literasi, numerasi dan bahasa Inggris berada di urutan terakhir nasional dari 38 provinsi. 

Persentasi capaian kemampuan literasi adalah 47,78 persen, numerasi 31,73 persen dan bahasa Inggris 19,71 persen.

Sementara cnnindonesia.com edisi 2/3/2023, menyoroti kinerja literasi siswa SMA di NTT melalui data Rapor Pendidikan. 

Hasil asesmen terhadap 869 SMA, melibatkan 33.433 siswa, 773 kepala sekolah, dan 20.214 guru pada 2022, menunjukkan kemampuan literasi di bawah kompetensi minimum, yaitu kurang dari 50 persen siswa telah mencapai batas kompetensi minimum untuk literasi membaca.

Reformulasi Genta Belis

Statistik di atas memiliki pesan reflektif yang kuat, terutama soal daya saing anak-anak NTT di masa depan. Dampaknya bisa jauh, ke peluang masuk kampus terbaik, termasuk sulitnya persaingan di pasar kerja.    

Intervensi otoritas seperti dinas pendidikan, pengawas sekolah dan satuan pendidikan tentu sangat diperlukan. 

Pada tahun 2024, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT menggagas satu gerakan pemantik, yakni Gerakan NTT Membaca dan Menulis (Genta Belis). 

Terobosan ini bertujuan  untuk mendorong minat baca para pelajar, ketersediaan akses dan bahan bacaan, serta  memfasilitasi ragam kompetisi literasi. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved