Selasa, 28 April 2026

Opini

Opini: Kerisauan Gubernur NTT dan Reformulasi Genta Belis

Kinerja siswa NTT di bidang literasi, numerasi dan bahasa Inggris berada di urutan terakhir nasional dari 38 provinsi. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI M.N ABA NUEN
M.N Aba Nuen 

Sayangnya, gerakan ini belum memiliki daya ungkit (leverage) di tingkat sekolah. 

Genta Belis adalah program strategis dan berpotensi membawa efek domino yang positif, jika desain awalnya mengakomodir faktor keberlanjutan (sustainability) dampak jangka panjang.  

Dalam dua tahun terakhir, menurut saya Genta Belis belum memberikan impact nyata, misalnya sebagai booster terbentuknya kultur literasi di sekolah.  

Karena itu, hemat saya, strategi implementasi gerakan ini perlu dirumuskan kembali (reformulated). Selain itu, gerakan ini juga butuh kerja kolektif para pihak dalam ekosistem pendidikan. 

Otoritas yang dapat berkontribusi mendukung Genta Belis di tataran implementasi antara lain pertama, pengawas sekolah. Peran pendampingan dan supervisi terhadap kepala sekolah dan guru yang melekat pada pengawas sangat relevan.

Pengawas sekolah dapat menjadi mentor dan coach bagi kepala sekolah, dalam konteks manajerial desain program sekolah di bidang literasi. Dengan demikian dapat dipastikan, literasi menjadi progam prioritas di semua sekolah. 

Peran supervisi pengawas sekolah, juga penting untuk memastikan kemampuan literasi siswa, terintegrasi dalam pembelajaran di setiap mata pelajaran. 

Kedua, kepala sekolah memainkan peran paling krusial untuk menjadikan giat literasi timbuh menjadi kultur sekolah. 

Pada titik ini, diperlukan sosok kepala sekolah yang mampu menerjemahkan arah gerakan Genta Belis dalam bahasa program yang terukur di satuan pendidikan. 

Kepala sekolah, baiknya memiliki kemampuan membaca data mutu sekolahnya, mengkonsolidasikan semua sumber daya yang tersedia, dan melahirkan aksi-aksi nyata yang solutif. 

Tidak cukup, jika budaya literasi di sekolah diukur dengan adanya pojok literasi di setiap ruang kelas. 

Itu baru sentuhan fisik, karena substansi yang ingin dibangun adalah perubahan perilaku siswa, seperti gemar membaca, mengskpresikan gagasan dalam bahasa lisan dan tulis, serta mengembangkan kemampuan menalar melalui giat diskusi, debat, pidato dan lainnya. 

Untuk memunculkan kemampuan siswa seperti ini, kepala sekolah adalah arsiteknya. Buatlah website sekolah sebagai media publikasi warga sekolah. 

Dorong keterlibatan siswa dalam produksi berita kegiatan sekolah. Wajibkan guru-guru menulis praktik baik pembelajaran, karya sastra atau artikel bertema pendidikan. Dengan cara ini, guru bisa menarik minat siswa untuk membaca dan menulis dengan teladan (role model), bukan dengan perintah verbal. 

Ketiga, guru adalah aktor utama, yang berada di garis depan layanan pembelajaran. Sebagai pemimpin pembelajaran, gurulah yang paling mengenal kebutuhan belajar siswa. 

Mesti diingat, bahwa literasi bukan semata-mata urusan guru bahasa, Pendekatan pembelajaran berbasis teks, diskusi, project, dapat diterapkan di semua mata pelajaran. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved