Rabu, 27 Mei 2026

Opini

Opini: Amfoang yang Terlupakan- Saat BBM Langka, Jalan Rusak dan Faskes Menjadi Pajangan

Keterisolasian fisik ini adalah awal dari efek domino bencana ekonomi yang mencekik kehidupan warga Amfoang, Kabupaten Kupang. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI BERNABAS HAKI
Bernabas Haki 

Oleh : Bernabas Haki
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Nusa Tenggara Timur. 

POS-KUPANG.COM - Di balik siluet perbukitan karang yang berdiri angkuh dan hamparan sabana yang memeluk ujung utara Pulau Timor, tersimpan sebuah ironi yang mengakar kuat melintasi zaman. 

Amfoang, sebuah wilayah yang secara administratif bernapas di bawah naungan Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, hingga detik ini masih memainkan peran tragis sebagai "anak tiri" dalam panggung pembangunan daerah. 

Jaraknya secara geografis dari ibu kota kabupaten tidaklah melintasi benua, namun realitas kehidupan masyarakatnya seolah terkurung dalam kapsul waktu yang menolak untuk maju. 

Di saat peradaban di luar sana sibuk berbicara tentang digitalisasi, kereta cepat, dan kecerdasan buatan, rakyat Amfoang masih harus berdarah-darah meneriakkan hak paling dasar mereka sebagai warga negara: infrastruktur yang layak, keadilan akses energi, dan hak untuk hidup sehat.

Baca juga: Opini: Bahasa Simbol Perlawanan

Mari kita bedah satu per satu luka lama ini, dimulai dari urat nadi kehidupan yang paling krusial: jalan raya. Memasuki wilayah Amfoang bagaikan mengarungi lautan daratan yang penuh dengan jebakan penderitaan. 

Jalanan di sana tidak lebih dari sekadar rute perintis karena tergores kasar di atas tanah berdebu saat kemarau menyengat, dan menjelma menjadi kubangan lumpur hidup yang siap menelan roda-roda kendaraan hingga ke gardan saat musim penghujan tiba. 

Aspal hitam adalah sebuah kemewahan yang langka, sebuah janji politik yang selalu menguap seiring berakhirnya gegap gempita masa kampanye. 

Kendaraan bermotor, yang kebanyakan adalah truk kayu modifikasi, harus berjibaku melewati batu-batu lepas sebesar kepala manusia, menuruni tebing curam, dan menantang arus sungai-sungai ganas yang hingga kini tak kunjung dihadiahi jembatan. 

Bagi warga Amfoang, perjalanan dari desa ke pusat kota bukanlah sebuah mobilitas rutin, melainkan sebuah pertaruhan nyawa, waktu, dan harta benda.

Keterisolasian fisik ini adalah awal dari efek domino bencana ekonomi yang mencekik kehidupan warga. 

Jalan yang hancur lebur membuat biaya operasional kendaraan melonjak drastis, yang ujung-ujungnya membuat harga distribusi barang melambung hingga ke titik yang tidak masuk akal. Di sinilah letak tragedi keduanya: kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM).

Slogan "BBM Satu Harga" yang kerap digaungkan dengan bangga di televisi nasional terdengar seperti dongeng pengantar tidur yang ironis di telinga masyarakat Amfoang. 

Baca juga: Opini: Kampus sebagai Penjaga Nalar Demokrasi

Bagaimana mungkin harga bisa seragam jika truk-truk penyuplai harus bertaruh as patah di tengah lautan lumpur? Ketika BBM menjadi langka, roda ekonomi di Amfoang benar-benar lumpuh total. 

Para petani tidak bisa menggerakkan mesin giling, nelayan pesisir utara tak bisa melaut, dan hasil panen seperti kemiri, asam, serta ternak tak bisa dibawa ke pasar di Oesao atau Kota Kupang. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved