Opini
Opini: Kerisauan Gubernur NTT dan Reformulasi Genta Belis
Kinerja siswa NTT di bidang literasi, numerasi dan bahasa Inggris berada di urutan terakhir nasional dari 38 provinsi.
Di titik ini, kreativitas guru adalah faktor kunci, untuk mengeksplorasi ragam multi teks dan praktik pedagogis dalam pembelajaran, sebagai booster daya kritis kognisi siswa.
Terakhir, untuk merawat iklim literasi dan memperkaya bahan bacaan edukatif di sekolah, Dinas pendidikan dan Kebudayaan NTT perlu membuka ruang publikasi naskah tulisan bagi guru dan siswa.
Dengan kurasi naskah yang ketat, dinas dapat memilih naskah terbaik dan memberikan subsidi biaya penerbitan naskah kepada para penulis.
Jika skema ini berjalan efektif, Genta Belis berpeluang berubah dari sebuah gerakan moril, menjadi kultur sekolah yang dibangun di atas pembiasaan berulang.
Literasi beririsan kuat dengan kemampuan menalar, beretorika dan memecahkan masalah. Kemampuan kompleks seperti ini, butuh waktu dalam penguasaanya, dan karena itu Genta Belis perlu dirancang secara sustainable dan kolaboratif.
Sekolah yang mampu memantik pikiran kritis siswa dan guru dalam bahasa lisan dan tulis, bukankah itu adalah kultur yang paling dibutuhkan saat ini? (*)
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/MN-Aba-Nuen.jpg)