Minggu, 26 April 2026

Opini

Opini: Oko Mama Rohani- Sebuah Wadah Sebelum Obat

Kepemimpinan rakyat di NTT bukan hanya soal hadir saat krisis, tetapi soal memberi rasa dihormati sebelum memberi perintah.

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI DEBBIE MARLENI SODAKAIN
Debbie Marleni Sodakain 

Bencana seperti ini mengingatkan kita bahwa rakyat NTT hidup dalam lapisan kerentanan yang bertumpuk. Ada kemiskinan. Ada stunting. Ada migrasi berisiko. Ada ancaman alam. 

Dalam situasi seperti ini, rakyat tidak cukup diberi instruksi. Mereka membutuhkan kehadiran yang menghormati ketakutan mereka. 

Kepemimpinan rakyat di NTT bukan hanya soal hadir saat krisis, tetapi soal memberi rasa dihormati sebelum memberi perintah.

Di sinilah oko mama rohani menjadi penting. Dalam pelayanan, kita sering terlalu cepat menjadi dokter. 

Kita melihat luka lalu segera menyodorkan obat berupa nasihat, ayat teguran, atau instruksi perubahan. 

Kita ingin cepat memperbaiki. Namun kita lupa bahwa obat yang paling mujarab sekalipun akan tumpah sia sia jika tidak ada wadahnya. Wadah itu adalah kehormatan diri. 

Ketika seseorang jatuh, terluka, miskin, gagal, atau tersesat, yang pertama hancur bukan logikanya. Yang hancur adalah rasa keberhargaannya. Ia merasa kotor. Ia merasa gagal. Ia merasa tidak layak.

Menyodorkan oko mama rohani berarti kita berhenti sejenak dari keinginan untuk mengajar. 

Kita memilih untuk mengembalikan martabat terlebih dahulu. Kita mengatakan tanpa kata: engkau tetap manusia, bahkan dalam kegagalanmu. 

Engkau tetap dikasihi Tuhan, bahkan dalam lukamu. Engkau bukan kasus. Engkau bukan angka. Engkau bukan beban program. Engkau pribadi yang harus dihormati. Di sini pemikiran teolog perempuan menjadi sangat relevan. 

Mercy Amba Oduyoye mengingatkan bahwa teologi harus lahir dari pengalaman perempuan yang merawat kehidupan di tengah keterbatasan. Iman tidak boleh melayang di atas tubuh, dapur, air dan anak (Oduyoye, 2001). 

Elisabeth Schüssler Fiorenza menegaskan bahwa pembacaan Kitab Suci harus membuka struktur ketidakadilan yang membungkam mereka yang lemah (Schüssler Fiorenza, 1983). 

Sementara Letty M. Russell berbicara tentang gereja sebagai ruang perjamuan inklusif, tempat orang diterima sebelum diubah (Russell, 1993).

Maka oko mama rohani bukan romantisme budaya. Ia adalah kritik terhadap cara kita memimpin. Ia bertanya: apakah pemimpin masih sanggup duduk bersama rakyat tanpa langsung berkhotbah? 

Apakah gereja masih mampu mendengar sebelum menegur? Apakah keluarga masih dapat memulihkan sebelum mempermalukan? Apakah program sosial masih melihat manusia sebagai manusia sebelum melihatnya sebagai target?

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved