Opini
Opini: Martabat Perempuan di NTT dalam Terang Dokumen Mulieris Dignitatem
Ketika tubuh perempuan dilukai, yang dihancurkan bukan hanya fisiknya, tetapi identitas kemanusiaannya.
Gedung bisa bertambah, jalan bisa diperbaiki, tetapi kalau kesadaran etis masyarakat tidak berubah, kekerasan akan tetap berulang.
Teknologi, media sosial, dan urbanisasi bahkan kadang membuka bentuk kekerasan baru, mulai dari grooming, eksploitasi digital, hingga pelecehan berbasis relasi kuasa.
Karena itu, persoalan ini menuntut tanggung jawab bersama: keluarga, sekolah, Gereja, pemerintah, dan masyarakat sipil.
Gereja secara khusus tidak cukup hanya berbicara tentang moralitas, tetapi harus hadir sebagai ruang aman bagi korban, ruang edukasi bagi kaum muda, dan suara profetis yang berani menentang budaya yang merendahkan perempuan.
Mulieris Dignitatem mengingatkan bahwa peradaban kasih hanya mungkin jika perempuan dihormati dalam martabatnya, akhirnya, 556 korban adalah alarm moral bagi NTT.
Daerah yang dikenal religius tidak boleh membiarkan perempuan dan anak hidup dalam ketakutan.
Menghormati martabat perempuan bukan sekadar agenda sosial, tetapi ukuran kemanusiaan kita sendiri. Kalau perempuan masih tidak aman, maka masyarakat kita belum benar-benar beradab. (*)
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
| Opini: Saatnya Kita Bangun Masyarakat Interkultural |
|
|---|
| Opini - Suanggi Dalam Pertarungan Pengetahuan: Antara Keyakinan Lokal dan Rasionalitas Moderen NTT |
|
|---|
| Opini - Budaya yang Mengalir: Reinterpretasi Tradisi Lokal NTT melalui Kosmologi Heraklitos |
|
|---|
| Opini: Duduk Melingkar Bersama Guru- Proficiat, Prof. Otto Gusti Madung |
|
|---|
| Opini: Imam Cendekiawan Organik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Mario-Suban-Bahy.jpg)