Sabtu, 18 April 2026

Opini

Opini: Martabat Perempuan  di NTT dalam Terang  Dokumen Mulieris Dignitatem

Ketika tubuh perempuan dilukai, yang dihancurkan bukan hanya fisiknya, tetapi identitas kemanusiaannya.

|
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MARIO SUBAN BAHY
Mario Suban Bahy 

Gedung bisa bertambah, jalan bisa diperbaiki, tetapi kalau kesadaran etis masyarakat tidak berubah, kekerasan akan tetap berulang. 

Teknologi, media sosial, dan urbanisasi bahkan kadang membuka bentuk kekerasan baru, mulai dari grooming, eksploitasi digital, hingga pelecehan berbasis relasi kuasa.

Karena itu, persoalan ini menuntut tanggung jawab bersama: keluarga, sekolah, Gereja, pemerintah, dan masyarakat sipil. 

Gereja secara khusus tidak cukup hanya berbicara tentang moralitas, tetapi harus hadir sebagai ruang aman bagi korban, ruang edukasi bagi kaum muda, dan suara profetis yang berani menentang budaya yang merendahkan perempuan. 

Mulieris Dignitatem mengingatkan bahwa peradaban kasih hanya mungkin jika perempuan dihormati dalam martabatnya, akhirnya, 556 korban adalah alarm moral bagi NTT. 

Daerah yang dikenal religius tidak boleh membiarkan perempuan dan anak hidup dalam ketakutan. 

Menghormati martabat perempuan bukan sekadar agenda sosial, tetapi ukuran kemanusiaan kita sendiri. Kalau perempuan masih tidak aman, maka masyarakat kita belum benar-benar beradab. (*)

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved