Jumat, 17 April 2026

Opini

Opini: Duduk Melingkar Bersama Guru- Proficiat, Prof. Otto Gusti Madung

Sebagai profesor ketiga di Ledalero, setelah Pater Konrad Kebung, SVD dan Pater Guido Tisera, SVD, kehadiran beliau tentu membanggakan. 

|
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI OTTO GUSTI MADUNG
Otto Gusti Madung 

Oleh: Adrianus Yohanes Mai
Salah satu Murid Prof. Otto

POS-KUPANG.COM - Tanggal 18 April 2026 menjadi penanda penting dalam perjalanan intelektual Profesor Otto Gusti Madung—hari pengukuhannya sebagai Guru Besar dalam bidang Filsafat Politik. 

Namun, bagi saya, momen ini bukan sekadar peristiwa akademik. Ia adalah kesempatan untuk menulis sebuah catatan—catatan seorang murid tentang gurunya.

Profesor Otto dikenal luas melalui karya-karyanya tentang demokrasi, pluralisme, serta hak asasi manusia. Disertasinya sendiri bergulat secara serius dengan pemikiran Jürgen Habermas dan Giorgio Agamben—dua horizon filosofis yang, dalam cara berbeda, sama-sama berusaha menyelamatkan martabat manusia dalam dunia modern. 

Baca juga: Opini: Imam Cendekiawan Organik

Dari Habermas, kita belajar tentang pentingnya ruang publik yang dialogis; dari Agamben, kita diingatkan akan mereka yang kerap terpinggirkan oleh sistem. 

Namun, yang membuat Profesor Otto berbeda bukanlah sekadar apa yang ia pikirkan, melainkan bagaimana ia hidup.

Filsafat yang Dihidupi

Ia tidak hanya berbicara tentang demokrasi—ia menghidupinya. Dalam ruang kelas, ia memperlakukan mahasiswa dan mahasiswi secara adil dan setara. 

Tidak ada jarak yang menindas, tidak ada otoritas yang membungkam. Yang ada adalah dialog. Dalam banyak kesempatan, ruang belajar bahkan melampaui kelas formal. Tempat paling nyaman baginya justru sederhana: “duduk melingkar”.

Di dalam lingkaran itu, filsafat menjadi hidup. Tidak ada pusat yang dominan, tidak ada pinggiran yang diabaikan. Semua hadir sebagai subjek. Guru dan murid tidak dipisahkan oleh tembok otoritas, tetapi dipertemukan dalam percakapan yang setara.

Keteladanan yang Hidup

Saya masih mengingat satu momen sederhana yang, bagi saya, sangat bermakna. Suatu ketika, saat beliau sedang menjalani program postdoktoralnya di Melbourne, Australia, saya melihatnya tekun bekerja di kamar. 

Dengan sedikit ragu, saya mencoba mengganggunya: “We still have wine in our coolroom, Father.” Ia langsung menjawab sambil tersenyum, “I can’t refuse it.”

Pater Adrianus Yohanes Mai SVD
Pater Adrianus Yohanes Mai SVD (POS-KUPANG.COM/HO)

Ia meninggalkan pekerjaannya. Mungkin tampak sepele. Namun, bagi saya, di situlah letak kedekatan itu. Seorang profesor yang bersedia berhenti sejenak, hadir, dan berbagi momen sederhana dengan muridnya. Tidak ada jarak. Tidak ada formalitas yang kaku. Hanya relasi manusiawi.

Momen lain yang tak kalah berkesan adalah ketika ia menjadi pengkhotbah dalam Misa Syukur tahbisan saya di Ende, 8 Februari 2021. 

Dalam homilinya, ia menekankan keteladanan Maria—kerendahan hati, keterbukaan, dan keberanian untuk berkata “ya” pada panggilan.

Namun, yang membuat homili itu hidup bukan hanya kata-katanya, melainkan kesaksian hidupnya sendiri. Ia tidak hanya mengkhotbahkan Maria—ia menghidupinya.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved