Opini
Opini: Imam Cendekiawan Organik
Ia bukan imam yang bersembunyi di balik altar intelektual, melainkan imam yang hadir dalam pergumulan sosial.
Dalam perspektif Gramsci, cendekiawan tidak boleh netral. Netralitas sering kali hanya menyamarkan keberpihakan pada status quo.
Cendekiawan harus memilih posisi, dan pilihan paling etis adalah berdiri di sisi mereka yang tertindas.
Sosok Otto Gusti Madung, sejauh yang dikenal banyak orang, menunjukkan pilihan itu.
Ia bukan imam yang bersembunyi di balik altar intelektual, melainkan imam yang hadir dalam pergumulan sosial.
Ia bukan filsuf yang nyaman di menara gading, melainkan filsuf yang turun ke medan konflik.
Di tengah dunia akademik yang kian birokratis dan berjarak dari masyarakat, sosok seperti ini menjadi pengingat: ilmu tidak pernah netral. Ia selalu berpihak. Pertanyaannya hanya satu: berpihak pada siapa? (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ferdinandus-Jehalut.jpg)