Opini
Opini: Imam Cendekiawan Organik
Ia bukan imam yang bersembunyi di balik altar intelektual, melainkan imam yang hadir dalam pergumulan sosial.
Ia ditempa oleh tradisi intelektual yang kuat, tetapi tidak pernah menjauh dari pergulatan masyarakat pinggiran.
Setelah menempuh studi filsafat di Ledalero, ia melanjutkan pendidikan teologi di Austria, lalu meraih gelar magister dan doktor filsafat di München, Jerman.
Disertasinya membandingkan pemikiran politik Giorgio Agamben dan Jürgen Habermas. Jejak intelektual itu membuatnya dikenal sebagai salah satu pakar Habermas di Indonesia.
Namun reputasi akademik bukan hal paling penting dalam sosok Otto Gusti. Yang lebih menonjol adalah konsistensinya sebagai imam dan intelektual yang terlibat dalam persoalan sosial. Ia tidak hanya menulis di ruang akademik, tetapi juga hadir dalam kerja-kerja kemanusiaan.
Dalam bahasa Antonio Gramsci, sosok seperti ini disebut cendekiawan organik. Gramsci membedakan cendekiawan tradisional dan cendekiawan organik.
Cendekiawan tradisional merasa netral dan otonom dari konflik sosial. Ia bekerja dalam dunia gagasan, menjaga jarak dari masyarakat, dan merasa dirinya berada di atas pertarungan kepentingan.
Sebaliknya, cendekiawan organik lahir dari pergulatan sosial tertentu. Ia tidak netral. Ia memilih berpihak. Ia tidak betah di menara gading, tetapi turun ke dalam denyut kehidupan masyarakat.
Dalam pengertian ini, Otto Gusti Madung adalah contoh nyata cendekiawan organik. Ia bukan hanya filsuf yang menulis buku dan artikel jurnal, melainkan juga imam yang terlibat langsung dalam kerja-kerja kemanusiaan.
Keterlibatannya dalam Tim Relawan untuk Kemanusiaan Flores dan Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (KPKC) SVD Ende menunjukkan bahwa filsafat yang ia hidupi tidak steril dari realitas sosial.
Ia hadir dalam medan konflik, penderitaan, dan ketidakadilan, bukan sekadar sebagai pengamat, melainkan sebagai pelaku solidaritas.
Ia tidak menjadikan masyarakat sebagai objek penelitian, tetapi sebagai subjek perjuangan.
Keberpihakannya pada kelompok miskin dan terpinggirkan tampak dalam tulisan-tulisannya di media massa.
Lebih dari sekadar untuk mengisi halaman opini, Otto menulis untuk membangun kesadaran publik tentang hak-hak sipil, politik, dan sosial masyarakat kecil.
Sikap seperti ini sejalan dengan semangat Teori Kritis, terutama dalam pemikiran Jürgen Habermas.
Dalam tradisi ini, ilmu pengetahuan tidak pernah netral. Ia selalu terkait dengan kepentingan tertentu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ferdinandus-Jehalut.jpg)