Jumat, 17 April 2026

Opini

Opini: Imam Cendekiawan Organik

Ia bukan imam yang bersembunyi di balik altar intelektual, melainkan imam yang hadir dalam pergumulan sosial. 

Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI FERDINANDUS JEHALUT
Ferdinandus Jehalut 

Oleh karena itu, tugas intelektual bukan sekadar menghasilkan pengetahuan teknis, melainkan mendorong pembebasan manusia dari penindasan.

Ilmu yang hanya berhenti pada kepentingan teknis akan melahirkan ilmuwan yang cerdas, tetapi dingin secara moral. 

Mereka mampu meneliti, tetapi tidak mampu merasakan ketidakadilan. Ilmu kehilangan daya kritisnya dan justru menjadi alat reproduksi dominasi.

Di sinilah letak tanggung jawab moral seorang profesor. Gelar akademik seharusnya tidak menjadi simbol kenyamanan, tetapi beban etis. Ia menuntut keberanian untuk bersuara, berpihak, dan terlibat.

Otto Gusti Madung tampak menghidupi tanggung jawab itu. Ia tidak memandang filsafat sebagai alat dominasi, tetapi sebagai ruang dialog untuk memperjuangkan masyarakat yang lebih adil. 

Pergulatan intelektualnya selalu mengarah pada keberpihakan terhadap mereka yang kecil, miskin, dan terpinggirkan.

Banyak mahasiswa mengenalnya sebagai dosen yang terbuka, mudah dihubungi, dan tidak menyulitkan proses akademik. 

Relasi yang dibangunnya tidak bercorak feodal, tetapi dialogis. Ia menepis jarak kekuasaan dengan mahasiswa dan menciptakan ruang komunikasi yang setara.

Peran intelektualnya juga tidak berhenti di ruang kelas. Ia mendorong perjalanan akademik banyak orang, membuka ruang kolaborasi, dan membangun jejaring solidaritas. Relasi intelektual yang ia bangun bersifat produktif, bukan eksklusif.

Melampaui Status Administratif

Bagi saya, gelar profesor bagi Otto Gusti Madung bukan sekadar status administratif. 

Di Indonesia, tidak sedikit profesor yang lebih cocok disebut sebagai profesor administratif daripada gelar untuk sebuah posisi intelektual. 

Profesor menjadi simbol birokrasi akademik, bukan suara moral di tengah masyarakat.

Dalam konteks ini, pengangkatan seorang profesor seharusnya tidak hanya dirayakan, tetapi juga diuji. 

Apakah ia akan tetap berdiri di sisi orang-orang pinggiran, atau perlahan masuk ke dalam kenyamanan struktur akademik?

Pertanyaan itu penting, bukan hanya bagi dirinya, melailnkan juga bagi dunia akademik Indonesia. Gelar profesor seharusnya bukan akhir perjalanan, melainkan awal tanggung jawab yang lebih besar.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved