Kamis, 16 April 2026

Opini

Opini: Menjaga Mutu Undana di Balik Layar WFH

Pelaksanaan WFH dan SFH satu hari setiap Jumat tentu bukan persoalan besar jika dilihat hanya dari sisi jadwal. 

|
Editor: Dion DB Putra
HUMAS UNDANA KUPANG
Roy Nendissa 

Pengelolaan risiko tidak hadir untuk menakut-nakuti perubahan, apalagi menghambatnya. 

Sebaliknya, ia membantu perguruan tinggi memastikan bahwa setiap penyesuaian berjalan dengan aman, terarah, dan tetap sejalan dengan tujuan akademik. 

Dalam kajian tentang pengelolaan risiko di perguruan tinggi, Christopher Bamber menunjukkan bahwa pendekatan yang baik dapat membantu universitas menjaga keberlanjutan tata kelola dan memperkuat kemampuan menghadapi perubahan. 

Artinya, kebijakan yang baik akan semakin kuat jika diiringi dengan pengelolaan yang cermat.

Pelaksanaan WFH dan SFH satu hari setiap Jumat tentu bukan persoalan besar jika dilihat hanya dari sisi jadwal. 

Namun, dalam kehidupan kampus, perubahan kecil pun dapat memengaruhi banyak hal: ritme layanan, pola interaksi antara dosen dan mahasiswa, kualitas pembelajaran, hingga pengalaman belajar itu sendiri. 

Pembelajaran daring, walaupun hanya berlangsung terbatas, tetap memerlukan kesiapan mengajar yang memadai. Tidak semua metode mengajar dapat langsung dipindahkan ke ruang digital tanpa penyesuaian. 

Jika hal ini tidak diperhatikan, pertemuan daring berisiko menjadi sekadar aktivitas formal, bukan proses belajar yang benar-benar menghidupkan daya pikir mahasiswa.

Di sisi lain, realitas mahasiswa juga tidak selalu sama. Ada mahasiswa yang cukup nyaman belajar secara daring, tetapi ada juga yang masih menghadapi keterbatasan perangkat, kualitas jaringan, maupun lingkungan belajar yang kurang mendukung. 

Karena itu, fleksibilitas akademik perlu selalu disertai kepekaan sosial, agar kebijakan yang dimaksudkan sebagai kemudahan tidak tanpa sengaja melahirkan kesenjangan baru.

Riset tentang kualitas pembelajaran daring juga memperlihatkan hal yang sejalan. 

Dalam studi pada perguruan tinggi di negara berkembang, kualitas pembelajaran online dipengaruhi oleh dukungan institusi, dukungan pengajar, dan faktor motivasi mahasiswa. 

Temuan itu menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran daring tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kesiapan universitas dalam menyiapkan sistem pendukung yang memadai. 

Dengan kata lain, fleksibilitas akan bekerja dengan baik bila diiringi pengelolaan yang cermat.

Hal yang sama berlaku pada aspek layanan dan kinerja. Satu hari kerja dari rumah menuntut cara pandang yang sedikit berbeda. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved