Opini
Opini: Gunung Es HIV di NTT- Saat Stigma Lebih Mematikan dari Virus
Tanpa ruang aman, orang dengan HIV akan terus bersembunyi—dan itu berarti kita kehilangan kesempatan menyelamatkan mereka.
Oleh: Winston Rondo
Ketua DPD GAMKI Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Nusa Tenggara Timur selama ini dikenal sebagai wajah toleransi dan keindahan di gerbang timur Indonesia.
Namun di balik narasi itu, sebuah krisis sunyi sedang berlangsung dan terus membesar tanpa cukup kita sadari.
HIV/AIDS di NTT bukan lagi sekadar angka statistik. Ia telah menjadi ancaman nyata bagi kualitas hidup, ketahanan keluarga, dan masa depan generasi kita.
Fenomena Gunung Es yang Tak Terbantahkan
Banyak orang merasa situasi masih terkendali karena melihat angka kasus yang tampak “relatif kecil”.
Padahal, yang kita hadapi adalah fenomena klasik epidemiologi: gunung es. Kasus yang tercatat hanyalah permukaan.
Baca juga: Opini: AIDS Bisa Mematikan? Eits, Mari Kita Pikirkan!
Di bawahnya, ada jauh lebih banyak orang yang belum terdeteksi, tidak tahu statusnya, atau memilih diam karena takut stigma.
Di Kota Kupang saja, hingga September 2025, akumulasi kasus telah mencapai 2.539 jiwa, meningkat tajam dari sekitar 1.300 kasus pada tahun sebelumnya.
Lonjakan ini bukan semata keberhasilan pendataan, melainkan sinyal kuat bahwa penularan masih terus terjadi di tengah masyarakat.
Lebih mengkhawatirkan, HIV telah menembus ruang-ruang domestik. Kasus pada ibu rumah tangga dan anak-anak menunjukkan bahwa ini bukan lagi isu “kelompok tertentu”, melainkan persoalan keluarga dan komunitas secara luas.
Namun di titik inilah kita harus jujur: epidemi ini tidak hanya diperparah oleh virus, tetapi oleh stigma yang kita pelihara bersama.
Stigma: Penghalang Terbesar Penyelamatan Nyawa
Ketakutan untuk dihakimi membuat banyak orang enggan melakukan tes, menunda pengobatan, bahkan menutup diri dari dukungan sosial.
Akibatnya fatal: keterlambatan diagnosis, penularan yang tidak terputus, dan kualitas hidup yang terus menurun.
Di banyak tempat, orang dengan HIV tidak hanya berjuang melawan penyakit, tetapi juga melawan pengucilan bahkan dari lingkungan terdekatnya sendiri.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka upaya medis secanggih apa pun tidak akan cukup.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Anggota-DPRD-NTT-Winston-Rondo-Ia-menyebut-kasus-proyek.jpg)