Senin, 20 April 2026

Opini

Opini: Gunung Es HIV di NTT- Saat Stigma Lebih Mematikan dari Virus

Tanpa ruang aman, orang dengan HIV akan terus bersembunyi—dan itu berarti kita kehilangan kesempatan menyelamatkan mereka.

|
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/IRFAN HOI
Winston Rondo. 

Karena dalam konteks ini, stigma bekerja lebih mematikan daripada virus itu sendiri.

Gereja dan Tanggung Jawab Moral

Sebagai masyarakat yang religius, refleksi kritis menjadi penting. Selama ini, pendekatan terhadap HIV/AIDS kerap dibungkus dalam perspektif moral yang sempit yang melihat penyakit sebagai konsekuensi dosa, bukan sebagai realitas kemanusiaan yang membutuhkan empati dan pendampingan.

Akibatnya, ruang-ruang iman yang seharusnya menjadi tempat pemulihan justru berubah menjadi ruang penghakiman.

Padahal dalam iman Kristen, setiap manusia adalah Imago Dei, gambar Allah yang bermartabat. 

Status kesehatan tidak pernah menghapus nilai kemanusiaan seseorang.

Karena itu, gereja dan organisasi pemuda harus berani mengubah pendekatan: dari menghakimi menjadi mendampingi, dari menutup diri menjadi menyediakan safe space atau ruang aman. 

Tanpa ruang aman, orang dengan HIV akan terus bersembunyi—dan itu berarti kita kehilangan kesempatan menyelamatkan mereka.

Menggugat Maskulinitas, Menegaskan Tanggung Jawab

Pergeseran tren penularan ke ibu rumah tangga dan pelajar menunjukkan bahwa persoalan ini juga berakar pada konstruksi sosial, khususnya cara kita memaknai maskulinitas.

Terlalu lama, laki-laki didorong untuk menunjukkan dominasi, tetapi tidak cukup dididik untuk bertanggung jawab atas kesehatan dirinya dan pasangannya.

Sudah saatnya kita mendefinisikan ulang maskulinitas: bukan soal kuasa, tetapi soal tanggung jawab. 

Kesetiaan bukan sekadar norma moral, melainkan fondasi keselamatan keluarga.

Tanpa perubahan cara pandang ini, bonus demografi yang kita banggakan berisiko berubah menjadi beban kesehatan publik di masa depan.

Negara Harus Hadir: Dari Narasi ke Aksi

Upaya penanggulangan HIV tidak bisa berhenti pada sosialisasi simbolik.

Kampanye tanpa dukungan sistem dan anggaran hanya akan menjadi retorika.

Negara harus memastikan:

  1. Akses tes HIV (VCT) yang luas, mudah, dan tanpa stigma hingga tingkat puskesmas.
  2. Ketersediaan dan kesinambungan terapi ARV bagi semua yang membutuhkan.
  3. Perlindungan sosial bagi kelompok rentan, termasuk penghapusan diskriminasi dalam layanan publik.
Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved