Opini
Opini: Gunung Es HIV di NTT- Saat Stigma Lebih Mematikan dari Virus
Tanpa ruang aman, orang dengan HIV akan terus bersembunyi—dan itu berarti kita kehilangan kesempatan menyelamatkan mereka.
Ini bukan soal belas kasihan, tetapi kewajiban konstitusional.
Kesehatan adalah hak dasar warga negara. Di tingkat daerah, DPRD bersama pemerintah harus memastikan alokasi anggaran yang memadai dan pengawasan yang konsisten agar program tidak berhenti di atas kertas.
Menjahit Imunitas Sosial
Menghadapi HIV di NTT membutuhkan lebih dari sekadar intervensi medis.
Kita membutuhkan apa yang bisa disebut sebagai imunitas sosial, kekuatan kolektif yang lahir dari pengetahuan, empati, dan keberanian untuk bertindak.
Pemerintah, gereja, dan organisasi pemuda harus bergerak dalam satu irama: melawan stigma, memperluas akses, dan membangun kesadaran.
Kita harus berhenti melihat HIV sebagai masalah “orang lain”. Ini adalah persoalan kita bersama, tentang keluarga kita, anak-anak kita, dan masa depan daerah ini.
Sejarah pembangunan NTT tidak hanya akan diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi dari keberanian kita merangkul mereka yang paling rentan.
Jika kita terus diam, kita sedang membiarkan satu generasi hidup dalam ketakutan dan pengucilan.
Namun jika kita berani membuka ruang, berani peduli, dan berani mengasihi tanpa syarat, maka kita sedang menyelamatkan masa depan.
Sebab pada akhirnya, kasih harus selalu lebih menular daripada virusnya sendiri.
Cinta Tuhan, Cinta Nusa Bangsa. Ora et Labora. (*)
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Anggota-DPRD-NTT-Winston-Rondo-Ia-menyebut-kasus-proyek.jpg)