Opini
Opini: Alleluia di Tengah Reruntuhan- Makna Paskah di Masa Perang
Apa artinya menyanyikan “Alleluia” ketika mata kita menyaksikan kekerasan dan penderitaan yang tak berkesudahan?
Sebagaimana kubur yang kosong menggema dengan pesan bahwa kematian dan kekerasan tidak memiliki otoritas terakhir, Paskah menawarkan harapan yang menyala-nyala bagi mereka yang saat ini mengalami penderitaan, penindasan, dan kengerian perang.
Harapan, Iman, dan Doa
Dalam ensiklik Spe Salvi (2), Paus Benediktus XVI mengingatkan kita: “Bukan karena mereka mengetahui secara rinci apa yang menanti mereka, tetapi mereka tahu secara umum bahwa hidup mereka tidak akan berakhir dalam kekosongan.”
Iman dan harapan adalah dua sisi yang tidak terpisahkan. Harapan setara dengan iman; iman terkandung dalam harapan, dan harapan sendiri membutuhkan iman.
Merayakan Kebangkitan di tengah reruntuhan perang menuntut suatu harapan yang berakar pada kepercayaan penuh—kepercayaan bahwa kasih Allah jauh lebih kuat daripada kematian, kekerasan, dan keputusasaan.
Harapan ini tidak menutup mata terhadap realitas pahit penderitaan manusia, melainkan menegaskan bahwa Allah masuk ke dalam penderitaan itu, mengubahnya, dan menghadirkan kehidupan baru.
Sebagaimana para murid berjumpa dengan Kristus yang bangkit setelah mengalami trauma penyaliban, umat Kristiani masa kini diundang untuk membiarkan harapan menuntun hidup mereka, menjadi saksi damai di dunia yang masih terluka oleh konflik.
Lalu, mungkinkah kita berseru “Alleluia” di tengah reruntuhan? Bagaimana kita melakukannya? Inilah pertanyaan eksistensial kita saat ini.
Paus Benediktus XVI memberikan jawabannya: tempat pertama dan paling penting untuk belajar berharap adalah doa.
Doa menjadi ruang perjumpaan antara iman dan harapan. Doa mengangkat pandangan kita dari kehancuran yang mengelilingi kita dan menyerahkan diri sepenuhnya pada kasih Allah.
Dari harapan yang dipelihara dalam ruang doa inilah keberanian untuk berseru “Alleluia” lahir.
Sebuah seruan yang menegaskan bahwa kuasa kehidupan dan penebusan Allah mampu melampaui bahkan reruntuhan kehancuran yang paling gelap sekalipun.
Kristus yang Bangkit dan Panggilan untuk Membangun Perdamaian
Kristus yang bangkit menyapa para murid-Nya dengan damai.
Ia memahami secara mendalam ketakutan dan keputusasaan mereka setelah kehilangan sosok yang mereka harapkan sebagai pembela.
Ia berdiri di tengah kegelapan hidup manusia dan membawa harapan baru—sebuah harapan yang mengubah penderitaan menjadi kemungkinan untuk hidup kembali.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Suster-Herlina-Hadia.jpg)