Opini
Opini: Alleluia di Tengah Reruntuhan- Makna Paskah di Masa Perang
Apa artinya menyanyikan “Alleluia” ketika mata kita menyaksikan kekerasan dan penderitaan yang tak berkesudahan?
Oleh: Sr. Herlina Hadia,SSpS
Mahasiswa yang sedang menyelesaikan studi S3 di Melbourne Australia.
POS-KUPANG.COM - Setiap kali Bapa Suci muncul di balkon Vatikan pada hari-hari raya besar, sebuah pesan yang kuat sering bergema ke seluruh dunia, mencerminkan salam Kristus yang bangkit: “Damai sejahtera bagi kamu semua.”
Kata-kata ini mencerminkan harapan terdalam Gereja agar damai Allah sungguh-sungguh meraja di dunia dan di dalam hati setiap manusia.
Gereja sangat menyadari bahwa dunia saat ini merintih dalam kerinduannya akan perdamaian.
Pada masa-masa ini, salam tersebut terasa jauh lebih mendesak: damai sejahtera bagi mereka yang berjuang untuk bertahan hidup di tengah kengerian perang, kesulitan ekonomi, ketidakadilan sosial, dan perjuangan untuk merebut kembali martabat kemanusiaan mereka.
Baca juga: Panitia Paskah Kupang Barat Matangkan Aksi Sosial di Tablolong
Namun pertanyaannya tetap ada: bagaimana seseorang dapat sungguh mengalami damai di tengah pergolakan hidup yang begitu kejam?
Dunia kita saat ini sedang terkoyak oleh perang. Beberapa negara hancur oleh kekejamannya, sementara negara-negara lain merasakan dampak gelombangnya.
Tak terhitung nyawa telah hilang; jutaan orang menderita; banyak yang harus berjuang hanya untuk mendapatkan sesuap makanan atau mencari sisa-sisa kenangan di antara reruntuhan rumah dan kota mereka yang telah hancur.
Ironisnya, di tengah tragedi ini, ada pula mereka yang bersukacita karena merasa telah mencapai tujuan politik mereka.
Ada begitu banyak perspektif yang saling bertentangan mengenai perang, namun Paus Fransiskus dalam ensiklik Fratelli Tutti (261) mengingatkan kita akan satu kebenaran mutlak: “Setiap perang membuat dunia kita lebih buruk daripada sebelumnya.”
Di tengah realitas kelam inilah umat Kristiani di seluruh dunia bersiap merayakan Paskah. Bagaimana mungkin sukacita Paskah dapat bertumbuh dari tanah yang basah oleh darah dan kehancuran?
Apa artinya menyanyikan “Alleluia” ketika mata kita menyaksikan kekerasan dan penderitaan yang tak berkesudahan?
Pada titik inilah umat Kristiani dipanggil untuk menemukan kembali makna inti dari misteri iman kita.
Para Bapa Konsili dalam dokumen Gaudium et Spes (77) menegaskan panggilan ini: umat manusia diundang untuk bekerja sama, di bawah bimbingan Kristus Sang Pencipta Damai, untuk mewujudkan perdamaian yang berlandaskan keadilan dan kasih.
Perdamaian bukan sekadar hasil diplomasi manusia, melainkan sesuatu yang diwujudkan di bawah bimbingan Sang Pencipta Damai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Suster-Herlina-Hadia.jpg)