Rabu, 13 Mei 2026

Opini

Opini: Alleluia di Tengah Reruntuhan- Makna Paskah di Masa Perang

Apa artinya menyanyikan “Alleluia” ketika mata kita menyaksikan kekerasan dan penderitaan yang tak berkesudahan?

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI HERLINA HADIA
Sr. Herlina Hadia 

Untuk memahami Paskah, kita harus melihat realitas penderitaan manusia saat ini melalui lensa penyaliban. Penyaliban Yesus Kristus sendiri terjadi dalam konteks penindasan politik dan kekerasan struktural. 

Pada masa itu, penyaliban merupakan hal yang lazim; banyak orang dihukum mati dengan cara ini karena melanggar hukum atau dianggap sebagai ancaman bagi penguasa. 

Para pemimpin pada zaman itu hidup di bawah tekanan politik yang kuat, dan keputusan mereka sering kali ditentukan oleh ketakutan akan ketidakstabilan. 

Dalam konteks historis inilah penyaliban Yesus menyingkapkan bagaimana kekuasaan, ketakutan, dan kekerasan saling terkait dalam sejarah manusia.

Dalam pandangan dunia Israel kuno, seseorang yang dihukum mati di salib dipandang sebagai orang yang ditolak oleh masyarakat, terkutuk menurut hukum Allah, dan dikeluarkan dari perjanjian dengan umat pilihan-Nya (Ulangan 21:23). 

Hal ini menyoroti skandal penyaliban itu sendiri: “digantung pada kayu” bukan hanya kematian yang memalukan, tetapi juga tanda penolakan ilahi dan pengucilan sosial. 

Dari sudut pandang manusia dan hukum pada masa itu, Yesus tampak sebagai kegagalan total—ditolak secara sosial, politik, dan religius.

Namun pada hakikatnya salib menghadirkan dua realitas yang berjalan berdampingan. 

Di satu sisi, salib menyingkapkan kekejaman manusia yang tak terbatas; di sisi lain, salib mengungkapkan solidaritas Allah yang tak terbatas terhadap penderitaan manusia. 

Teolog Jürgen Moltmann, dalam bukunya The Crucified God, menegaskan bahwa dalam peristiwa penyaliban, Allah mengidentifikasikan diri-Nya dengan mereka yang menderita dan ditinggalkan. 

Di atas salib, Yesus menampakkan kasih-Nya yang tak terbatas dengan memikul beban penderitaan umat manusia, yang pada akhirnya berpuncak pada realitas Kebangkitan.

Karena itu, Gereja saat ini harus kembali memandang Kristus yang tersalib untuk menunjukkan kepada dunia kebebasan sejati yang Ia tawarkan. 

Salib bukanlah kata terakhir atas penderitaan Yesus. Kekejaman di Golgota, dengan segala kekerasan dan ketidakadilannya, tidak mampu mengakhiri kasih-Nya. 

Justru di tengah penderitaan itulah solidaritas Allah dengan umat manusia dinyatakan secara sempurna.

Kebangkitan Kristus mengubah apa yang tampak sebagai kekalahan tragis di salib menjadi kemenangan mutlak bagi kehidupan dan harapan. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved