Rabu, 15 April 2026

Opini

Opini: Di Antara Nyawa dan Sistem- Potret Rapuh Pelayanan Rumah Sakit di NTT

Perbaikan pelayanan kesehatan di NTT tidak cukup hanya dengan menambah fasilitas atau tenaga medis. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI TRY SURIANI L TUALAKA
Try Suriani Loit Tualaka 

Artinya, segala risiko, termasuk kemungkinan kematian, akan sepenuhnya menjadi tanggung jawab keluarga. 

Dalam situasi seperti ini, pilihan menjadi semu. Secara administratif, keluarga diberi opsi, tetapi secara substansial mereka dipaksa memilih antara dua kemungkinan yang sama-sama fatal: bertahan tanpa kepastian penanganan, atau memindahkan pasien dengan risiko kehilangan nyawa di tengah proses. 

Ini bukan sekadar persoalan prosedur, melainkan bentuk nyata kegagalan sistem dalam melindungi pasien. 

Ketakutan itu membuat keluarga memilih bertahan. Pasien tetap berada di ruang ICU hingga hari kesembilan, sebelum akhirnya meninggal dunia, tanpa pernah benar-benar diketahui secara pasti apa penyebab utama kondisinya. 

Sistem pelayanan kesehatan kita menyediakan pilihan yang lebih baik bagi pasien. 

Pada titik yang paling krusial, vonis hidup dan mati pasien diputuskan oleh birokrasi rumah sakit.

Empati yang Dibatasi

Kasus ini membuka persoalan yang lebih dalam: bagaimana sistem kesehatan memperlakukan ketidakpastian, bagaimana komunikasi dijalankan, dan sejauh mana keluarga dilibatkan dalam proses perawatan. 

Dalam berbagai studi internasional, keterlibatan keluarga dalam perawatan pasien kritis justru menjadi bagian penting dari proses penyembuhan. 

Penelitian dalam jurnal Critical Care Medicine dan Journal of Intensive Care menunjukkan bahwa pasien dalam kondisi koma masih memiliki kemampuan merespons rangsangan eksternal, termasuk suara dari orang terdekat. 

Interaksi sederhana yang diberikan oleh keluarga, seperti berbicara atau memberikan dukungan emosional, dapat berperan sebagai stimulasi neurologis yang penting dan berpotensi mendukung proses pemulihan kesadaran (Schiff et al., 2007).

Namun dalam praktiknya, akses keluarga justru dibatasi secara tidak konsisten. 

Dalam kasus ini, istri pasien hanya diizinkan menjenguk beberapa kali setelah berulang kali memohon, sementara pasien lain di ruang yang sama tetap dapat menerima kunjungan keluarga. 

Ketidakkonsistenan ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah pembatasan tersebut benar-benar berbasis pertimbangan medis, atau sekadar praktik administratif yang tidak transparan?

Ketimpangan Layanan Kesehatan

Krisis empati juga tampak jelas di ruang bersalin. Di ruang yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi perempuan, masih ditemukan praktik kekerasan verbal. 

Dalam satu pengalaman, seorang ibu yang sedang menahan sakit persalinan justru mendapat komentar merendahkan dari tenaga medis: “Waktu berhubungan dengan suami tidak berteriak, malah menikmati. Tapi sekarang di rumah sakit berteriak sampai semua orang tahu mau melahirkan.” 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved