Opini
Opini: Nyepi, Ramadan, dan Bangsa yang Membutuhkan Seni Berdiam Diri
Dalam tradisi Hindu, Catur Brata Penyepian mengajarkan pembatasan atas api, kerja, perjalanan, dan hiburan.
Pada saat yang sama, BMKG di NTT dan kabupaten-kabupaten seperti Timor Tengah Selatan terus menaruh perhatian pada risiko kekeringan dan perubahan iklim.
Ini berarti persoalan NTT hari ini bukan hanya pembangunan, tetapi pembangunan yang tahan terhadap kerentanan ekologis dan sosial.
Maka, Tri Hita Karana tidak seharusnya dibaca sebagai slogan religius yang indah tetapi jauh dari kebijakan.
Harmoni dengan Tuhan, sesama, dan alam harus diterjemahkan menjadi etika pembangunan di NTT, dimana habitus kebijakan diarahkan pada Tindakan hemat air, perlindungan hutan, tata kelola yang tidak rakus, dan kebijakan yang menempatkan warga rentan sebagai pusat.
Dalam bahasa filsafat Hindu, ini adalah penolakan terhadap ekses. Dalam bahasa Islam, ini dekat dengan amanah dan keadilan. Dalam bahasa kebangsaan, ini berarti pembangunan yang beradab.
Para pemimpin publik semestinya menangkap pesan ini. Politik yang sehat tidak lahir dari kemampuan memproduksi slogan, tetapi dari kebiasaan menimbang dampak moral sebelum bertindak.
NTT yang plural memberi contoh bahwa kerukunan paling kuat justru tumbuh dari keseharian, yakni saling menjaga hari raya, saling menghormati ruang ibadah, dan saling menahan diri agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.
Itulah filsafat hening yang paling praktis. Ia tidak menghapus perbedaan, tetapi membuat perbedaan dapat hidup bersama tanpa saling melukai.
Dalam zaman yang reaktif, itu bukan pesan kecil, melainkan kebutuhan nasional. Dan justru di situlah agama menemukan daya kebangsaannya yang paling bernilai. (*)
Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/I-Putu-Yoga-Bumi-Pradana-01.jpg)