Opini
Opini: Nyepi, Ramadan, dan Bangsa yang Membutuhkan Seni Berdiam Diri
Dalam tradisi Hindu, Catur Brata Penyepian mengajarkan pembatasan atas api, kerja, perjalanan, dan hiburan.
Oleh: I Putu Yoga Bumi Pradana
Wakil Sekretaris Parisadha Hindu Dharma Indonesia Provinsi NTT
Demisioner Ketua Perhimpunan Pemuda Hindu Provinsi NTT 2013-2019
Demisioner Ketua Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia Provinsi NTT 2010-2012
POS-KUPANG.COM - Hari Raya Nyepi pada Kamis, 19 Maret 2026, hadir ketika umat Islam juga sedang menjalani Ramadan. Pertemuan ini bukan semata urusan kalender.
Ia adalah cermin yang memantulkan kebutuhan paling mendesak bangsa ini: kemampuan untuk berhenti sejenak, menahan diri, lalu menilai ulang arah hidup bersama.
Kementerian Agama menegaskan Nyepi 2026 jatuh pada 19 Maret 2026 dan beriringan dengan Ramadan, bahkan pemerintah menyiapkan panduan khusus karena perayaannya berdekatan dengan Idulfitri. Fakta ini memberi makna kebangsaan yang tidak kecil.
Baca juga: Opini: Ogoh-Ogoh, Nyepi, dan Seni Menaklukkan Diri
Di tengah Indonesia yang gaduh oleh polarisasi, banjir komentar, dan moralitas yang sering tampil sebagai pertunjukan, Nyepi dan Ramadan sama-sama mengajarkan satu disiplin utama: penguasaan diri.
Dalam tradisi Hindu, Catur Brata Penyepian mengajarkan pembatasan atas api, kerja, perjalanan, dan hiburan.
Dalam Islam, puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan amarah, keserakahan, dan lisan.
Di sini, agama tidak tampil sebagai identitas yang dipertentangkan, melainkan sebagai sekolah etika.
Dari Hindu dan Islam: Menang atas Diri Sendiri
Filsafat Hindu sudah lama memahami bahwa kekacauan sosial berakar pada kekacauan batin. Dalam Bhagavad Gita, pengendalian indria menjadi syarat kejernihan tindakan.
Manusia yang tidak mampu menata dirinya akan mudah dikuasai nafsu, marah, dan kebingungan.
Ajaran ini relevan sekali bagi Indonesia hari ini, ketika reaksi sering lebih cepat daripada refleksi. Nyepi, dalam kerangka itu, adalah latihan untuk memutus tirani impuls.
Dari sisi Buddha, Siddhartha Gautama mengajarkan Jalan Tengah, yakni menjauhi pemanjaan diri sekaligus penyiksaan diri. Pelajarannya jelas. Peradaban tidak dibangun oleh kerakusan, tetapi oleh keseimbangan.
Itu sebabnya keheningan bukan kemewahan spiritual, melainkan syarat kewarasan.
Sementara Mahatma Gandhi menekankan swaraj bukan hanya kemerdekaan politik, tetapi pemerintahan atas diri sendiri.
Bangsa yang merdeka tanpa warga yang mampu menguasai diri akan tetap rapuh dari dalam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/I-Putu-Yoga-Bumi-Pradana-01.jpg)