Opini
Opini: Nyepi, Ramadan, dan Bangsa yang Membutuhkan Seni Berdiam Diri
Dalam tradisi Hindu, Catur Brata Penyepian mengajarkan pembatasan atas api, kerja, perjalanan, dan hiburan.
Tradisi Islam memberi pelajaran yang sepadan. Al-Ghazali melihat hati manusia sebagai medan perjuangan moral; puasa penting karena ia melemahkan dominasi syahwat dan menguatkan akal serta nurani.
Ibn Miskawayh menulis bahwa keutamaan lahir dari keseimbangan daya-daya jiwa, bukan dari pemuasan salah satu dorongan secara berlebihan.
Bahkan Ibn Khaldun, ketika membahas jatuh bangunnya peradaban, mengingatkan bahwa kemewahan dan kerakusan elite dapat merusak kohesi sosial.
Dengan kata lain, baik dari ajaran Hindu maupun dari Islam, pesannya sama, yakni masyarakat runtuh bukan pertama-tama karena kurang slogan, melainkan karena gagal menertibkan nafsu.
Indonesia yang Bising, Indonesia yang Lelah
Di sinilah Nyepi yang berjumpa dengan Ramadan menjadi kritik tajam terhadap Indonesia saat ini.
Ketimpangan pengeluaran nasional pada September 2025 memang turun, tetapi gini ratio masih berada pada angka 0,363.
Artinya, perbaikan ada, namun keadilan sosial belum dapat diproklamasikan selesai.
Bangsa ini masih hidup dengan jurang kesejahteraan yang nyata, sementara ruang publik terus dipenuhi kebisingan yang kerap menutupi soal-soal substantif.
Pelajaran filsafat Timur justru berguna di sini. Konfusius menekankan bahwa ketertiban negara berawal dari pembinaan diri, lalu keluarga, baru negara.
Laozi bahkan lebih keras dengan menyatakan bahwa terlalu banyak hasrat dan paksaan hanya akan melahirkan kekacauan.
Indonesia modern cenderung mengejar hasil cepat, pertumbuhan cepat, reaksi cepat, tetapi sering mengabaikan disiplin batin yang membuat kuasa dan kebebasan tidak berubah menjadi keserakahan.
Nyepi dan Ramadan mengingatkan bahwa jeda bukan kemunduran. Jeda adalah prasyarat kejernihan moral.
Karena itu, toleransi tidak cukup dipahami sebagai sopan santun antaragama. Toleransi harus naik kelas menjadi kesediaan belajar dari laku batin agama lain. Umat Hindu dapat melihat puasa sebagai pedagogi solidaritas.
Umat Islam dapat melihat Nyepi sebagai pedagogi keheningan. Negara semestinya membaca keduanya sebagai modal etis untuk memperkuat demokrasi yang terlalu sering dikuasai amarah, sensasi, dan kalkulasi jangka pendek.
NTT dan Etika Menahan Diri
Bagi Nusa Tenggara Timur, pesan ini bahkan lebih konkret. Persentase penduduk miskin NTT pada September 2025 masih 17,50 persen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/I-Putu-Yoga-Bumi-Pradana-01.jpg)