Rabu, 8 April 2026

Opini

Opini: Noelia Castillo-Eutanasia Bukanlah Teladan

Kefanaan itu sendiri, bagi Oliver, memiliki keindahan, seperti musik yang justru bermakna karena ia berakhir dalam “silence”. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUEMNTASI PRIBADI MELKI DENI
Melki Deni, S. Fil 

Oleh: Melki Deni, S. Fil.
Sedang Studi Teologi di Universidad Pontificia Comillas, Madrid, Spanyol.

POS-KUPANG.COM - Hampir tiap hari saya membaca dan mendengar kabar duka. Suatu hari saya membaca dan menonton video wawancara dari Noelia Castillo, gadis 25 tahun dari Barcelona, yang selama dua tahun berjuang mendapatkan hak untuk melakukan eutanasia

Berdasarkan wawancara tersebut, Noelia sudah lama mengalami pelecehan dari mantan pasangannya dan beberapa kali mendapatkan pelecahan seksual. 

Pada 4 Oktober 2022 Noelia mencoba bunuh diri dengan melompat dari jendela lantai lima setelah mengalami pemerkosaan beramai-ramai. 

Sebelumnya Noelia pernah mencoba bunuh diri dengan mengonsumsi obat overdosis. 

Baca juga: Opini: Menyalibkan Kebenaran

Akibat dari semua itu, Noelia menjadi lumpuh, harus menggunakan kursi roda, dan sakit-sakitan. 

Noelia dengan tegas mengatakan bahwa dia tidak tahan lagi dengan rasa sakit, semua yang menyiksa pikirannya dengan apa yang dia alami. 

Dia tidak memiliki tujuan dan cita-cita hidupnya, bahkan setelah 13 tahun menjalani perawatan psikologis. Pengharapan terakhir tidak tersisa lagi. 

Ia sudah menutup semua pintu kemungkinan lainnya. Ia tidak lagi percaya akan cinta, perhatian, kesabaran, pelayanan, dan pertolongan dari orang lain. . Tetapi pada Kamis, 26 Maret 2026 lalu, Noelia  mengakhiri hidupnya.

Kalau saya membaca kabar duka di media sosial, saya buru-buru berpindah ke konten lainnya. 

Tetapi saya tidak bisa hindar, ketika ada orang yang berbicara tentang kematian salah satu anggota keluarga, sahabat, kenalan, dll. 

Pendengaran saya lebih mudah menusuk hati dan mempekerjakan pikiran daripada penglihatan; mungkin itu sebabnya saya lebih cepat menangkap penjelasan dari orang lain lewat pendengaran daripada menulis ringkasan. 

Kabar kematian selalu membuat saya syok dan khawatir. Tidak seperti kematian berencana seperti yang Noelia lakukan atau Noelia-Noelia lainnya, tahun 2022 adalah tahun syok eksistensial bagi saya, karena kepergian kakak sulung pada Maret. 

Dia pergi tanpa rencana, tanpa kesepakatan, tanpa pesan atau dialog, dan atas pilihan bebasnya sendiri. 

Kalau cita-cita dan tujuan hidup tidak ada lagi, seperti kata Noelia, apakah alasan lain yang membuat kita bertahan hidup? 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved