Breaking News
Rabu, 8 April 2026

Opini

Opini: Mengubah Krisis Energi Menjadi Energi Kreativitas

Sebenarnya, masyarakat kita tidak kekurangan ide. Di berbagai penjuru Nusantara, inovasi lahir dari desakan kebutuhan. 

Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO-DOK PRIBADI YAYAN SAKTI SURYANDARU
Yayan Sakti Suryandaru 

Oleh: Yayan Sakti Suryandaru
Dosen di Departemen Komunikasi, FISIP- Universitas Airlangga, Surabaya

POS-KUPANG.COM - Bagi Indonesia, konflik yang membara di Timur Tengah, terutama eskalasi ketegangan antara Iran dan Israel, bukan sekadar urusan geopolitik yang jauh dari jangkauan indra. 

Konflik ini harus segera diantisipasi secara kreatif, menggantikan energi berbasis fosil pada sumber energi lain yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Saat ini ketegangan energi berada tepat di urat nadi ekonomi kita: Selat Hormuz

Jalur sempit ini, menurut laporan International Energy Agency (IEA, 2023), dilalui oleh sekitar 21 juta barel minyak per hari, atau setara dengan 21 persen konsumsi cairan minyak dunia. 

Baca juga: Pertamina Patra Niaga Tutup Satgas RAFI 2026, Pasokan Energi di NTT Aman dan Terkendali

Saat jalur ini terganggu, Indonesia menjadi salah satu negara yang paling rentan terkena "demam" ekonomi yang hebat.

Ancaman ini nyata dan masif. Data menunjukkan bahwa ketergantungan kita pada impor energi fosil kian mengkhawatirkan. 

Menurut laporan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas, 2024), produksi minyak siap jual (lifting) domestik terus menurun di bawah angka 600.000 barel per hari (bph). 

Sementara itu, konsumsi nasional melonjak hingga 1,5 juta hingga 1,6 juta bph. 

Defisit satu juta barel ini harus ditambal melalui impor, yang dalam catatan Badan Pusat Statistik tahun 2023 telah menyedot devisa hingga 32,22 miliar dollar AS. 

Artinya, setiap dentuman meriam di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dunia akan langsung menguras kantong APBN kita secara brutal.

Dampak Sosiopsikologis

Ketika harga minyak dunia berfluktuasi melampaui asumsi makro APBN, ekonomi domestik pun goyah. Ketahanan energi menjadi rapuh. Namun, dampak yang sering terabaikan adalah dimensi sosiopsikologisnya. 

Gejolak harga bukan hanya persoalan teknis di lantai bursa, melainkan menjalar menjadi reaksi sosial yang destruktif. 

Ketakutan akan kelangkaan memicu panic buying. Publik merasa tidak aman bukan hanya karena ketiadaan barang, melainkan karena ketiadaan kepastian informasi.

Krisis energi sering kali dipahami secara sempit hanya sebagai masalah pasokan fisik. Padahal, krisis ini juga menyangkut bagaimana masyarakat tetap merasa tenang dan memiliki alternatif untuk bertahan. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved