Kamis, 23 April 2026

Opini

Opini: Ketika Orang Kecil Harus Berteriak Lebih Keras

Orang kecil sering berada dalam posisi yang paling rentan dalam struktur sosial. Mereka memiliki akses terbatas terhadap kekuasaan...

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI GOLDY OGUR
Goldy Ogur 

Oleh: Goldy Ogur
Mahasiswa IFTK Ledalero, Maumere - Nusa Tenggara Timur

POS-KUPANG.COM - Dalam kehidupan sosial kita hari ini, sering muncul sebuah pola yang menggelisahkan: masalah yang menimpa orang kecil jarang dianggap serius sampai mereka terpaksa bersuara lebih keras. 

Keluhan yang disampaikan secara biasa sering kali tidak cukup untuk menggerakkan perhatian. 

Laporan sudah disampaikan, permohonan sudah diajukan, bahkan kadang penderitaan sudah berlangsung lama. Namun semuanya seolah berjalan lambat, bahkan terabaikan.

Situasi berubah ketika masalah itu menjadi ramai. Ketika sebuah video beredar luas, ketika cerita seseorang menyebar di media sosial, atau ketika perhatian publik mulai tertuju pada kasus tersebut. 

Baca juga: Opini: Mengenang Habermas dan Kritik Komodifikasi Demokrasi 

Pada titik itu, berbagai pihak tiba-tiba bergerak. Pernyataan dikeluarkan, investigasi dilakukan, bahkan solusi mulai dicari. 

Realitas ini memperlihatkan bahwa dalam banyak kasus, perhatian sosial dan politik sering datang bukan karena urgensi masalah, tetapi karena besarnya sorotan.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan yang tidak sederhana: apakah sebuah masalah harus menjadi ramai terlebih dahulu sebelum dianggap penting? 

Jika iya, maka ada sesuatu yang keliru dalam cara kita memandang penderitaan orang lain. Sebab penderitaan tetaplah penderitaan, baik disaksikan banyak orang maupun tidak.

Orang kecil sering berada dalam posisi yang paling rentan dalam struktur sosial. Mereka memiliki akses terbatas terhadap kekuasaan, jaringan, maupun sumber daya. 

Ketika menghadapi ketidakadilan, dalam pelayanan publik, hukum, pendidikan, atau ekonomi, pilihan mereka tidak banyak. 

Mereka melapor, menunggu, berharap ada respons. Tetapi ketika respons itu tidak datang, satu-satunya cara yang tersisa adalah membuat suara mereka lebih keras.

Situasi ini tidak hanya menunjukkan kelemahan individu, tetapi juga mencerminkan kelemahan sistem. Sistem yang sehat seharusnya mampu mendengar keluhan bahkan sebelum ia menjadi teriakan. 

Ketika sistem baru bereaksi setelah tekanan publik muncul, berarti ada mekanisme yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Karena itu, persoalan ini bukan sekadar tentang orang kecil yang harus bersuara keras. Ini adalah persoalan tentang bagaimana sebuah masyarakat membangun kepekaan terhadap ketidakadilan. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved