Kamis, 23 April 2026

Opini

Opini: Ketika Orang Kecil Harus Berteriak Lebih Keras

Orang kecil sering berada dalam posisi yang paling rentan dalam struktur sosial. Mereka memiliki akses terbatas terhadap kekuasaan...

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI GOLDY OGUR
Goldy Ogur 

Apakah kita cukup peka untuk mendengar suara yang pelan, atau kita hanya tergerak oleh suara yang paling keras?

Suara yang Lemah dalam Struktur yang Keras

Dalam kehidupan sosial, tidak semua suara memiliki kekuatan yang sama. Ada suara yang mudah didengar karena didukung oleh kekuasaan, jabatan, atau pengaruh. 

Namun ada juga suara yang hampir tidak terdengar karena datang dari mereka yang tidak memiliki akses pada kekuatan tersebut.

Orang kecil sering berada pada posisi ini. Mereka mungkin memiliki masalah yang nyata dan serius, tetapi tidak memiliki saluran yang cukup kuat untuk menyampaikannya. 

Ketika mereka berbicara, suara mereka sering tenggelam di tengah hiruk pikuk kepentingan yang lebih besar.

Filsuf Jerman Jürgen Habermas berbicara tentang pentingnya ruang publik yang memungkinkan setiap warga menyampaikan pendapat secara setara. 

Dalam masyarakat demokratis, ruang publik seharusnya menjadi tempat di mana setiap suara dinilai berdasarkan argumen dan kebenarannya, bukan berdasarkan kekuasaan yang dimiliki.

Namun realitas sosial sering tidak berjalan seperti ideal tersebut. Dalam banyak situasi, yang paling didengar bukan yang paling benar, tetapi yang paling kuat atau paling berpengaruh. 

Mereka yang memiliki posisi atau jaringan lebih luas sering lebih mudah mendapatkan perhatian dibandingkan mereka yang berada di pinggiran.

Akibatnya, suara orang kecil sering tidak memiliki daya dorong yang cukup untuk mengubah keadaan. 

Mereka harus mengulang keluhan yang sama berkali-kali, berharap suatu hari ada pihak yang benar-benar mendengar. 

Dalam kondisi seperti ini, ketidakadilan tidak selalu muncul karena niat jahat, tetapi karena ketidakpekaan yang terus dibiarkan.

Struktur sosial yang keras terhadap suara yang lemah akhirnya menciptakan jarak antara kebijakan dan realitas. 

Kebijakan mungkin dibuat dengan niat baik, tetapi tanpa kepekaan terhadap suara yang paling lemah, kebijakan itu sering tidak menyentuh masalah yang sebenarnya.

Di sinilah tantangan terbesar muncul: bagaimana membangun sistem yang tidak hanya mendengar suara yang kuat, tetapi juga memberi ruang bagi suara yang paling pelan.

Keadilan yang Menunggu Sorotan

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved