Opini
Opini: Lonto Leok dan Masa Depan Demokrasi Partisipatif
Demokrasi bertumbuh dari kebiasaan mendengar sebelum menghakimi dan berdialog sebelum memutuskan.
Simbol ini sederhana, tetapi kuat setiap orang punya hak yang sama untuk berbicara. Prosesnya pun tidak tergesa-gesa.
Setiap pihak diberi kesempatan menyampaikan pendapat. Perbedaan pandangan dianggap wajar, bahkan perlu.
Dialog bisa berlangsung lama sampai semua pihak merasa didengar. Keputusan tidak diambil melalui voting cepat, tetapi melalui mufakat atau kesepakatan yang diterima bersama.
Dalam dunia politik modern, konsep seperti ini dikenal sebagai demokrasi deliberatif.
Namun masarakat Manggarai sudah mempraktikkannya jauh sebelum istilah itu populer di ruang akademik.
Lonto Leok mengajarkan bahwa legitimasi keputusan lahir dari proses mendengar yang sungguh-sungguh, bukan dari sekadar jumlah suara terbanyak.
Bayangkan jika semangat ini hidup dalam praktik politik kita hari ini. Perdebatan mungkin tetap ada, tetapi tidak berubah menjadi permusuhan.
Negara dan Tantangan Menghidupkan Partisipasi
Pertanyaan kemudian, apakah nilai-nilai seperti Lonto Leok bisa diintegrasikan dalam sistem demokrasi modern?
Negara sebenarnya telah memberi ruang partisipasi melalui berbagai regulasi, seperti musyawarah desa dan forum konsultasi publik.
Namun sering kali partisipasi tersebut bersifat prosedural. Rapat diadakan karena diwajibkan, bukan karena dianggap penting sebagai ruang dialog.
Politik modern juga dibentuk oleh tuntutan efisiensi. Keputusan harus cepat, proyek harus segera berjalan, anggaran harus segera disahkan. Dalam logika seperti ini, dialog panjang sering dianggap menghambat.
Padahal tanpa dialog yang bermakna, keputusan bisa kehilangan legitimasi sosial.
Selain itu, struktur kekuasaan dalam politik formal cenderung hierarkis. Tidak semua orang merasa nyaman atau berani menyampaikan pendapat.
Sementara dalam Lonto Leok, keberanian berbicara tumbuh karena ruangnya memang dirancang setara. Tentu saja, tradsi adat juga sempurna.
Dalam praktiknya, faktor usia, status sosial, atau gender bisa mempengaruhi dinamika musyawarah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Rikardus-Undat.jpg)