Kamis, 23 April 2026

Opini

Opini: Lonto Leok dan Masa Depan Demokrasi Partisipatif

Demokrasi bertumbuh dari kebiasaan mendengar sebelum menghakimi dan berdialog sebelum memutuskan. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI RIKARDUS UNDAT
Rikardus Undat 

Oleh: Rikardus Undat
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Widya Mandira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Belakangan ini, banyak orang merasa demokrasi Indonesia seperti berjalan, tetapi tidak benar-benar mendengarkan. 

Pemilu tetap ada, debat politik ramai di televisi dan media sosial, tetapi ruang dialog yang jujur justru terasa makin sempit. Politik sering berubah menjadi ajang saling serang, bukan saling memahami. 

Di tengah situasi seperti ini, mungkin sudah saatnya kita menoleh ke akar tradisi lokal yang selama ini luput dari perhatian. Lonto Leok dari Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Lonto Leok adalah tradisi musyawarah masyarakat Manggarai, Flores. Secara sederhana, ia berarti duduk melingkar untuk membicarakan persoalan bersama sampai menemukan kesepakatan. 

Baca juga: Opini: Menggali Kearifan Lokal Lonto Leok di Manggarai

Namun di balik kesederhanaannya, Lonto Leok menyimpan nilai politik yang dalam. 

Ia menunjukkan bahwa demokrasi bukan hanya soal memilih pemimpin, melainkan tentang bagaimana keputusan dibuat secara bersama, dengan saling menghormati.

Demokrasi Kita: Ramai,Tetapi Belum Tentu Partisipatif 

Indonesia sering dupuji sebagai negara demokrasi terbesar di Asia Tenggara. Pemilu berjalan rutin, pergantian kekuasaan berlangsung relatif damai, dan kebebasan berpendapat di jamin oleh konstitusi. 

Namun jika ditanya lebih jauh, apakah masyarakat benar-benar merasa terlibat dalam proses pengambilan keputusan?

Banyak kebjakan publik terasa jauh dari aspirasi warga. Musyawarah di tingkat lokal kadang hanya formalitas. 

Rapat berlangsung cepat, keputusan sudah disiapkan, dan partisipasi warga sekadar tanda tangan daftar hadir. 

Di tingkat nasional, keputusan strategis sering dirumuskan oleh segelintir elite politik dan ekonomi. Demokrasi akhirnya terasa seperti prosedur administratif. 

Kita memilih, lalu menunggu lima tahun lagi. Padahal demokrsi prtisipatif seharusnya memberi ruang bagi warga untuk terlibat aktif, bukan hanya sebagai pemlih, tetapi sebagai subjek yang ikut menentukan arah kebijakan.  Di sinilah Lonto Leok menjadi menarik untuk dibicarakan.

Lonto Leok: Duduk Melingkar, Bukan Berhadap-Hadapan

Dalam praktik Lonto Leok, semua orang duduk melingkar. Posisi duduk ini bukan sekadar kebiasaan, tetapi simbol kesetaraan. 

Tidak ada kursi lebih tinggi, tidak ada meja pemisah. Semua berada dalam jarak yang sama. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved