Opini
Opini: Krisis Baru Pendidikan
Krisis kesehatan mental belum sepenuhnya terlihat dalam statistik pendidikan kita, tetapi tanda-tandanya sudah lama muncul.
Oleh: Yahya Ado
Praktisi dan Konsultan Pendidikan Positif, tinggal di NTT.
POS-KUPANG.COM - Beberapa tahun terakhir, Indonesia ramai membicarakan krisis pembelajaran ( learning crisis).
Hasil berbagai asesmen menunjukkan bahwa banyak anak belum mampu membaca dan memahami teks sederhana pada usia yang seharusnya.
Di Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT), tantangan ini bahkan terasa lebih berat.
Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jejang Sekolah Menengah Atas (SMA) tahun 2025 berada di posisi buntut, 38 dari 38 provinsi di Indonesia.
Di balik diskusi tentang literasi dan numerasi yang belum selesai, ada krisis lain di depan mata yang jarang dibicarakan secara terbuka.
Meski sudah sering muncul di dalam kenyataan, tetapi belum banyak topik diskusi secara serius. Krisis kesehatan mental anak.
Baca juga: Opini: Cara Sporadis Merusak Mental Anak di Sekolah
Krisis ini tidak selalu terlihat dalam nilai ujian atau angka partisipasi sekolah (APS). Ia hadir dalam bentuk yang lebih sunyi. Anak yang kehilangan motivasi belajar.
Remaja yang hidup dalam kecemasan. Atau bahkan siswa yang datang ke sekolah dengan luka emosional yang tidak pernah benar-benar dipahami oleh guru dan orang dewasa di sekitarnya.
Jika ini tidak mulai diperhatikan secara benar-benar hari ini, krisis kesehatan mental berpotensi menjadi tantangan pendidikan terbesar berikutnya di NTT, selain literasi dan numerasi yang belum ada ujung.
Data nasional menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental bukan hal kecil.
Survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) pada 2022 menemukan bahwa sekitar 34,9 persen remaja Indonesia usia 10–17 tahun mengalami masalah kesehatan mental. Sekitar 5,5 persen mengalami gangguan mental yang signifikan secara klinis.
Lebih mengkhawatirkan, fakta bahwa hanya sekitar 2 sampai 3 persen dari mereka yang mengalami gangguan mental mendapatkan bantuan profesional.
Artinya, jutaan anak Indonesia atau sekitar 98 persen, sebenarnya sedang berjuang secara mandiri tanpa dukungan yang memadai dari ahli psikolog atau psikiater profesional. Ini sebuah ironi.
Di level global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga memperingatkan bahwa secara global 10 hingga 20 persen anak dan remaja mengalami gangguan kesehatan mental, dan hampir setengah dari gangguan tersebut mulai muncul sebelum usia 14 tahun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yahya-Ado01.jpg)