Opini
Opini: Krisis Baru Pendidikan
Krisis kesehatan mental belum sepenuhnya terlihat dalam statistik pendidikan kita, tetapi tanda-tandanya sudah lama muncul.
Bahkan kasus bunuh diri anak (muda) menempatkan urutan kedua untuk kasus kematian di dunia.
Anak di Tengah Kerentanan
Realitas sosial di NTT menunjukkan bahwa banyak anak tumbuh dalam kondisi yang tidak mudah. Provinsi ini masih menghadapi berbagai tantangan pembangunan manusia.
Angka stunting yang masih termasuk yang tertinggi di Indonesia, juga tingkat kemiskinan di banyak kabupaten juga relative masih tinggi dibanding rata-rata nasional.
Bagi anak-anak, kondisi ini bukan hanya soal ekonomi atau kesehatan fisik. Ini juga berkaitan dengan pengalaman hidup sehari-hari.
Tekanan dalam keluarga, keterbatasan akses layanan kesehatan, serta berbagai bentuk ketidakpastian yang dapat memengaruhi kondisi psikologis mereka.
Dalam banyak kasus, anak-anak harus belajar menghadapi tekanan hidup yang tidak selalu mereka pahami. Di lain sisi, layanan kesehatan mental di banyak daerah masih sangat terbatas.
Jumlah psikolog dan psikiater di Indonesia sendiri masih jauh dari standar internasional, dan sebagian besar terkonsentrasi di kota-kota besar. Apalagi di NTT.
Dukungan profesional bagi kesehatan mental anak hampir tidak tersedia secara sistematis.
Dalam kondisi seperti ini, sekolah sebenarnya memiliki peran yang sangat krusial. Bagi anak, sekolah adalah ruang sosial utama di luar keluarga.
Sekolah bisa menjadi tempat di mana anak merasa diterima, dipahami, dan didukung.
Namun demikian, sistem pendidikan kita sejauh ini lebih banyak berfokus pada hasil akademik. Belum menyentuh banyak soal kebahagian dan psikologi positif.
Nilai ujian, kemampuan membaca, dan prestasi belajar menjadi indikator utama keberhasilan pendidikan.
Dimensi kesejahteraan emosional (emotional wellbeing) anak sering kali berada di pinggir perhatian.
Padahal penelitian pendidikan menunjukkan bahwa kesehatan mental memiliki hubungan langsung dan sangat erat dengan kemampuan belajar.
Anak yang hidup dalam kecemasan kronis, stres berkepanjangan, atau trauma emosional akan kesulitan untuk berkonsentrasi, mengingat informasi, dan membangun motivasi belajar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yahya-Ado01.jpg)