Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Krisis Baru Pendidikan 

Krisis kesehatan mental belum sepenuhnya terlihat dalam statistik pendidikan kita, tetapi tanda-tandanya sudah lama muncul.

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YAHYA ADO
Yahya Ado 

Dengan kata lain, krisis kesehatan mental pada akhirnya akan memperparah krisis pembelajaran. Seorang anak tidak dapat belajar dengan optimal jika ia tidak merasa aman secara emosional.

Pendidikan Positif dan Holistic Wellbeing 

Jika pendidikan di NTT ingin benar-benar mengalami transformasi, maka perhatian terhadap kesehatan mental anak harus menjadi bagian dari agenda yang lebih luas. 

Sekolah tidak cukup hanya menjadi tempat transfer pengetahuan. Sekolah harus menjadi ruang yang aman dan manusiawi bagi kesejahteraan anak secara menyeluruh (holistic wellbeing).

Langkah pertama, sekolah harus mampu meningkatkan kesadaran bahwa kesehatan mental merupakan bagian penting dari pendidikan. 

Guru perlu mendapatkan pemahaman dasar tentang kesehatan mental anak, termasuk kemampuan mengenali tanda-tanda awal masalah psikologis seperti kecemasan berlebihan, perubahan perilaku, atau penarikan diri dari lingkungan sosial.

Langkah kedua, sekolah perlu membangun budaya yang lebih positif, ramah, dan suportif. 

Relasi yang positif antara guru dan murid, pendekatan pembelajaran positif yang lebih manusiawi, serta lingkungan belajar yang tidak penuh tekanan dapat menjadi faktor perlindungan penting bagi kesehatan mental anak.

Langkah ketiga, sangat penting bagi sekolah untuk memperkuat ekosistem kolaborasi antara sektor pendidikan, kesehatan, dan komunitas. 

Sebab, masalah kesehatan mental tidak dapat diselesaikan oleh sekolah saja. Dukungan keluarga, layanan kesehatan, serta organisasi masyarakat perlu bekerja bersama untuk menciptakan ekosistem yang lebih ramah bagi anak. 

Sebuah ungkapan popular, “It needs one village to rise a child.”  Butuh gerakan seluruh warga kampung untuk mendidik satu orang anak. 

NTT dan tentu di Indonesia  saat ini sedang berupaya keras mengatasi berbagai tantangan pendidikan, terutama dalam meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi anak. Upaya tersebut tentu sangat penting. 

Namun jika kita ingin melihat perubahan yang lebih mendasar, kita juga perlu mengingat satu hal sederhana, anak tidak hanya belajar dengan otaknya, tetapi juga dengan hatinya.

Pendidikan yang hanya berfokus pada kemampuan akademik tanpa memperhatikan kesejahteraan emosional anak pada akhirnya akan menghadapi batasnya sendiri. 

Sebaliknya, ketika anak merasa aman, dihargai, dan didukung secara emosional, proses belajar dapat berkembang secara lebih alami.  

Meski krisis kesehatan mental belum sepenuhnya terlihat dalam statistik pendidikan kita, tetapi tanda-tandanya sudah lama muncul. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved