Selasa, 21 April 2026

Opini

Opini: Hari Perempuan Sedunia, Kemiskinan Ekstrem NTT, dan Jalan Graduasi

Selama negara masih berwajah bantuan semata, kemiskinan akan terus berganti bentuk, tetapi tidak benar-benar hilang.

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI GERY MAU
Gery Mau 

Oleh: Gery Mau dan I Putu Yoga Bumi Pradana *

POS-KUPANG.COM - Di Nusa Tenggara Timur, kemiskinan ekstrem dibaca sebagai angka. Ia masuk tabel, dibahas dalam rapat, lalu disajikan seolah bisa dijinakkan dengan program dan bantuan. Padahal, kehidupan warga miskin tidak pernah sesederhana itu.

Di balik angka, ada rumah tangga yang hidup dari pendapatan rapuh, air bersih yang tidak pasti, sanitasi minim, pendidikan yang mudah terputus, layanan kesehatan yang jauh, dan pekerjaan yang tidak stabil. 

Ada keluarga yang jatuh miskin karena banyak sebab yang saling mengunci. Karena itu, kemiskinan ekstrem di NTT bukan sekadar kekurangan uang. Ia adalah jebakan hidup.

Baca juga: Opini: Merawat Kebhinekaan dari Meja Silaturahmi

Pada kurun waktu 2021-2024 tingkat kemiskinan ekstrem Provinsi NTT menunjukan penurunan cukup signifikan dari 6,44 persen menjadi 2,82 persen atau sekitar 3,62 persen. 

Namun demikian, angka tersebut masih di bawah rata-rata nasional sebesar 1,26 persen dan menempati posisi ke tujuh tertinggi secara nasional. 

I Putu Yoga Bumi Pradana
I Putu Yoga Bumi Pradana (DOKUMENTASI PRIBADI I PUTU YOGA BUMI PRADANA)

Capaian ini masih jauh dari target yang ditetapkan yaitu 0 persen pada tahun 2026. 

Kasus YBR dan banyak fakta lapangan lainnya menjadi bukti nyata penurunan Kemiskinan Esktrem belum sejalan dengan kondisi real masyarakat.

Pada 8 Maret, saat dunia memperingati Hari Perempuan Sedunia, kenyataan ini perlu dibaca lebih jujur. 

Dalam rumah tangga miskin, perempuan hampir selalu memikul beban paling berat: mengatur pangan keluarga, menutup kekurangan belanja, menjaga anak tetap sekolah, dan menahan tekanan psikologis ketika penghasilan rumah tangga runtuh. Karena itu, kemiskinan ekstrem di NTT tidak netral gender.

Logika Bantuan yang Menahan, Bukan Mengangkat

Masalahnya bukan karena negara tidak bekerja. Terlalu banyak program berjalan. 

Bantuan sosial ada, intervensi stunting ada, program pemberdayaan ada, dan kolaborasi lintas kementerian juga ada. Namun semua itu terlalu sering berhenti pada logika bantuan.

Logika bantuan penting untuk mencegah warga jatuh lebih dalam. Tetapi ketika bantuan dijadikan wajah utama negara, kebijakan lebih banyak bekerja sebagai penahan kejatuhan daripada pengangkat kehidupan. 

Negara sibuk memastikan bantuan sampai, tetapi tidak cukup serius memastikan keluarga penerima keluar dari kemiskinan.

Di sinilah kegagalan mendasar itu berada. Kemiskinan ekstrem di NTT tidak pernah berdiri sebagai masalah tunggal. Di wilayah pesisir, warga terjepit oleh produktivitas rendah dan pasar sempit. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved