Opini
Opini: Hari Perempuan Sedunia, Kemiskinan Ekstrem NTT, dan Jalan Graduasi
Selama negara masih berwajah bantuan semata, kemiskinan akan terus berganti bentuk, tetapi tidak benar-benar hilang.
Oleh: Gery Mau dan I Putu Yoga Bumi Pradana *
POS-KUPANG.COM - Di Nusa Tenggara Timur, kemiskinan ekstrem dibaca sebagai angka. Ia masuk tabel, dibahas dalam rapat, lalu disajikan seolah bisa dijinakkan dengan program dan bantuan. Padahal, kehidupan warga miskin tidak pernah sesederhana itu.
Di balik angka, ada rumah tangga yang hidup dari pendapatan rapuh, air bersih yang tidak pasti, sanitasi minim, pendidikan yang mudah terputus, layanan kesehatan yang jauh, dan pekerjaan yang tidak stabil.
Ada keluarga yang jatuh miskin karena banyak sebab yang saling mengunci. Karena itu, kemiskinan ekstrem di NTT bukan sekadar kekurangan uang. Ia adalah jebakan hidup.
Baca juga: Opini: Merawat Kebhinekaan dari Meja Silaturahmi
Pada kurun waktu 2021-2024 tingkat kemiskinan ekstrem Provinsi NTT menunjukan penurunan cukup signifikan dari 6,44 persen menjadi 2,82 persen atau sekitar 3,62 persen.
Namun demikian, angka tersebut masih di bawah rata-rata nasional sebesar 1,26 persen dan menempati posisi ke tujuh tertinggi secara nasional.
Capaian ini masih jauh dari target yang ditetapkan yaitu 0 persen pada tahun 2026.
Kasus YBR dan banyak fakta lapangan lainnya menjadi bukti nyata penurunan Kemiskinan Esktrem belum sejalan dengan kondisi real masyarakat.
Pada 8 Maret, saat dunia memperingati Hari Perempuan Sedunia, kenyataan ini perlu dibaca lebih jujur.
Dalam rumah tangga miskin, perempuan hampir selalu memikul beban paling berat: mengatur pangan keluarga, menutup kekurangan belanja, menjaga anak tetap sekolah, dan menahan tekanan psikologis ketika penghasilan rumah tangga runtuh. Karena itu, kemiskinan ekstrem di NTT tidak netral gender.
Logika Bantuan yang Menahan, Bukan Mengangkat
Masalahnya bukan karena negara tidak bekerja. Terlalu banyak program berjalan.
Bantuan sosial ada, intervensi stunting ada, program pemberdayaan ada, dan kolaborasi lintas kementerian juga ada. Namun semua itu terlalu sering berhenti pada logika bantuan.
Logika bantuan penting untuk mencegah warga jatuh lebih dalam. Tetapi ketika bantuan dijadikan wajah utama negara, kebijakan lebih banyak bekerja sebagai penahan kejatuhan daripada pengangkat kehidupan.
Negara sibuk memastikan bantuan sampai, tetapi tidak cukup serius memastikan keluarga penerima keluar dari kemiskinan.
Di sinilah kegagalan mendasar itu berada. Kemiskinan ekstrem di NTT tidak pernah berdiri sebagai masalah tunggal. Di wilayah pesisir, warga terjepit oleh produktivitas rendah dan pasar sempit.
Gery Mau
I Putu Yoga Bumi Pradana
Hari Perempuan Sedunia
Hari Perempuan Internasional
Hari Perempuan
8 maret hari perempuan internasional
Opini Pos Kupang
kemiskinan ekstrem
Data Kemiskinan Ekstrem di NTT
Meaningful
| Opini: Dilema Kesejahteraan- Efisiensi atau Erosi Biokrasi? |
|
|---|
| Opini: Sunyi yang Tidak Didengar-Ketika Bunuh Diri Menjadi Bahasa Terakhir |
|
|---|
| Opini: Lonjakan HIV/AIDS di Nusa Tenggara Timur |
|
|---|
| Opini: Ilusi “Profesor Menjamur” dan Krisis Nalar Kebijakan Pendidikan Tinggi |
|
|---|
| Opini: Kerahiman Ilahi- Jalan Pulang Menuji Hati yang Diperbaharui |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gery-Mau.jpg)