Selasa, 21 April 2026

Opini

Opini: Merawat Kebhinekaan dari Meja Silaturahmi

Perjumpaan ini mengingatkan kita bahwa kebhinekaan sejatinya tidak dirawat oleh jargon dan slogan, melainkan oleh relasi. 

|
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM
Hendrik Maku, SVD 

Oleh: Hendrikus Maku, SVD
Pegiat Dialog Lintas Agama, Tinggal di Civita Youth Camp, Tangerang Selatan.

POS-KUPANG.COM - Di tengah dunia yang kerap gaduh oleh politik identitas dan tafsir keagamaan yang saling menegasikan, sebuah perjumpaan sederhana di Pangkal Pinang justru menghadirkan pelajaran penting tentang makna kebhinekaan. 

Sabtu, 7 Maret 2026, di Hotel Soll Marina, Romo Hendrik, Bapak Firman selaku Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pangkal Pinang, dan Bapak Muhammad Kamil, tokoh Nahdlatul Ulama, duduk bersama dalam suasana silaturahmi yang hangat dan setara. 

Tidak ada mimbar tinggi, tidak ada klaim kebenaran sepihak—yang ada hanyalah dialog dan kesediaan untuk saling mendengarkan.

Perjumpaan ini mengingatkan kita bahwa kebhinekaan sejatinya tidak dirawat oleh jargon dan slogan, melainkan oleh relasi. 

Baca juga: Opini: Koordinasi yang Membingungkan- Pelajaran dari Polemik Sekda Ngada

Ia tumbuh dari keberanian untuk bertemu, berdialog, dan mengakui kemanusiaan satu sama lain. 

Dalam ruang kecil itulah kebhinekaan menemukan bentuknya yang paling otentik.

Salah satu refleksi penting dari dialog tersebut adalah kesadaran bahwa agama dan budaya menyimpan dua potensi sekaligus: menyatukan dan memisahkan. 

Romo Hendrik menegaskan bahwa agama-agama dan kearifan lokal memiliki daya rekat yang kuat, asalkan dipahami secara komprehensif. 

Ketika agama direduksi menjadi identitas sempit, ia mudah berubah menjadi alat eksklusi. 

Namun ketika agama dihayati sebagai sumber nilai kemanusiaan, keadilan, dan cinta kasih, ia justru menjadi kekuatan sentripetal yang menyatukan.

Di titik ini, problem kebhinekaan bukan terletak pada perbedaan itu sendiri, melainkan pada cara kita memahami perbedaan. 

Tafsir keagamaan yang parsial dan ahistoris kerap menguatkan sisi sentrifugal—daya yang menceraikan manusia dari sesamanya. 

Sebaliknya, pemahaman yang dialogis dan kontekstual akan membuka ruang temu antariman dan antarbudaya.

Refleksi ini diperdalam oleh pandangan Bapak Firman yang menempatkan kemajemukan dalam horizon teologis. Ia mengingatkan bahwa kebhinekaan adalah sunatullah, kehendak ilahi itu sendiri. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

Opini: Arsip

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved