Selasa, 21 April 2026

Opini

Opini: Merawat Kebhinekaan dari Meja Silaturahmi

Perjumpaan ini mengingatkan kita bahwa kebhinekaan sejatinya tidak dirawat oleh jargon dan slogan, melainkan oleh relasi. 

|
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM
Hendrik Maku, SVD 

Jika Allah menghendaki manusia hidup dalam keberagaman, maka menolak atau merendahkan perbedaan sama artinya dengan menolak kebijaksanaan Sang Pencipta. 

Karena itu, sikap apresiatif terhadap kemajemukan bukan hanya tuntutan sosial, melainkan juga laku spiritual—sebuah bentuk ibadah.

Pandangan ini penting untuk ditegaskan di tengah kecenderungan sebagian umat beragama yang memisahkan kesalehan ritual dari kesalehan sosial. 

Merawat harmoni, menjaga persaudaraan, dan menghormati perbedaan bukanlah sikap kompromistis yang melemahkan iman, melainkan justru ekspresi iman yang matang dan dewasa.

Sementara itu, Bapak Muhammad Kamil mengajak kita kembali pada fondasi paling dasar relasi manusia: ukhuwah insaniah, persaudaraan kemanusiaan. 

Pernyataan beliau sederhana, namun sangat mendasar: walaupun kita bukan saudara seagama, kita tetap bersaudara dalam kemanusiaan. 

Kesadaran ini sering kali terlupakan ketika identitas agama dijadikan tembok pemisah, bukan jembatan perjumpaan.

Ukhuwah insaniah menuntut kita untuk melihat sesama bukan pertama-tama sebagai “yang berbeda”, tetapi sebagai manusia yang memiliki martabat, luka, harapan, dan masa depan yang sama. 

Di sinilah agama diuji bukan pada seberapa keras ia membangun batas, melainkan pada seberapa luas ia membuka ruang kasih.

Silaturahmi di Pangkal Pinang itu, pada akhirnya, menawarkan sebuah pesan penting bagi kehidupan berbangsa: kebhinekaan tidak akan bertahan hanya dengan regulasi dan seremonial. 

Ia membutuhkan etos dialog, kerendahan hati, dan kesediaan untuk belajar dari yang lain. 

Agama dan budaya, bila dipahami secara utuh, bukanlah sumber konflik, melainkan energi moral untuk membangun kehidupan bersama yang damai dan berkeadaban.

Dari meja silaturahmi itulah kita belajar bahwa Indonesia yang majemuk tidak membutuhkan keseragaman, melainkan kedewasaan. Dan kedewasaan itu lahir ketika iman, budaya, dan kemanusiaan saling bertemu dalam dialog yang jujur dan penuh hormat. (*)

Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved