Opini
Opini: Merawat Kebhinekaan dari Meja Silaturahmi
Perjumpaan ini mengingatkan kita bahwa kebhinekaan sejatinya tidak dirawat oleh jargon dan slogan, melainkan oleh relasi.
Oleh: Hendrikus Maku, SVD
Pegiat Dialog Lintas Agama, Tinggal di Civita Youth Camp, Tangerang Selatan.
POS-KUPANG.COM - Di tengah dunia yang kerap gaduh oleh politik identitas dan tafsir keagamaan yang saling menegasikan, sebuah perjumpaan sederhana di Pangkal Pinang justru menghadirkan pelajaran penting tentang makna kebhinekaan.
Sabtu, 7 Maret 2026, di Hotel Soll Marina, Romo Hendrik, Bapak Firman selaku Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pangkal Pinang, dan Bapak Muhammad Kamil, tokoh Nahdlatul Ulama, duduk bersama dalam suasana silaturahmi yang hangat dan setara.
Tidak ada mimbar tinggi, tidak ada klaim kebenaran sepihak—yang ada hanyalah dialog dan kesediaan untuk saling mendengarkan.
Perjumpaan ini mengingatkan kita bahwa kebhinekaan sejatinya tidak dirawat oleh jargon dan slogan, melainkan oleh relasi.
Baca juga: Opini: Koordinasi yang Membingungkan- Pelajaran dari Polemik Sekda Ngada
Ia tumbuh dari keberanian untuk bertemu, berdialog, dan mengakui kemanusiaan satu sama lain.
Dalam ruang kecil itulah kebhinekaan menemukan bentuknya yang paling otentik.
Salah satu refleksi penting dari dialog tersebut adalah kesadaran bahwa agama dan budaya menyimpan dua potensi sekaligus: menyatukan dan memisahkan.
Romo Hendrik menegaskan bahwa agama-agama dan kearifan lokal memiliki daya rekat yang kuat, asalkan dipahami secara komprehensif.
Ketika agama direduksi menjadi identitas sempit, ia mudah berubah menjadi alat eksklusi.
Namun ketika agama dihayati sebagai sumber nilai kemanusiaan, keadilan, dan cinta kasih, ia justru menjadi kekuatan sentripetal yang menyatukan.
Di titik ini, problem kebhinekaan bukan terletak pada perbedaan itu sendiri, melainkan pada cara kita memahami perbedaan.
Tafsir keagamaan yang parsial dan ahistoris kerap menguatkan sisi sentrifugal—daya yang menceraikan manusia dari sesamanya.
Sebaliknya, pemahaman yang dialogis dan kontekstual akan membuka ruang temu antariman dan antarbudaya.
Refleksi ini diperdalam oleh pandangan Bapak Firman yang menempatkan kemajemukan dalam horizon teologis. Ia mengingatkan bahwa kebhinekaan adalah sunatullah, kehendak ilahi itu sendiri.
Jika Allah menghendaki manusia hidup dalam keberagaman, maka menolak atau merendahkan perbedaan sama artinya dengan menolak kebijaksanaan Sang Pencipta.
Karena itu, sikap apresiatif terhadap kemajemukan bukan hanya tuntutan sosial, melainkan juga laku spiritual—sebuah bentuk ibadah.
Pandangan ini penting untuk ditegaskan di tengah kecenderungan sebagian umat beragama yang memisahkan kesalehan ritual dari kesalehan sosial.
Merawat harmoni, menjaga persaudaraan, dan menghormati perbedaan bukanlah sikap kompromistis yang melemahkan iman, melainkan justru ekspresi iman yang matang dan dewasa.
Sementara itu, Bapak Muhammad Kamil mengajak kita kembali pada fondasi paling dasar relasi manusia: ukhuwah insaniah, persaudaraan kemanusiaan.
Pernyataan beliau sederhana, namun sangat mendasar: walaupun kita bukan saudara seagama, kita tetap bersaudara dalam kemanusiaan.
Kesadaran ini sering kali terlupakan ketika identitas agama dijadikan tembok pemisah, bukan jembatan perjumpaan.
Ukhuwah insaniah menuntut kita untuk melihat sesama bukan pertama-tama sebagai “yang berbeda”, tetapi sebagai manusia yang memiliki martabat, luka, harapan, dan masa depan yang sama.
Di sinilah agama diuji bukan pada seberapa keras ia membangun batas, melainkan pada seberapa luas ia membuka ruang kasih.
Silaturahmi di Pangkal Pinang itu, pada akhirnya, menawarkan sebuah pesan penting bagi kehidupan berbangsa: kebhinekaan tidak akan bertahan hanya dengan regulasi dan seremonial.
Ia membutuhkan etos dialog, kerendahan hati, dan kesediaan untuk belajar dari yang lain.
Agama dan budaya, bila dipahami secara utuh, bukanlah sumber konflik, melainkan energi moral untuk membangun kehidupan bersama yang damai dan berkeadaban.
Dari meja silaturahmi itulah kita belajar bahwa Indonesia yang majemuk tidak membutuhkan keseragaman, melainkan kedewasaan. Dan kedewasaan itu lahir ketika iman, budaya, dan kemanusiaan saling bertemu dalam dialog yang jujur dan penuh hormat. (*)
Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Hendrik-Maku-Pater-01.jpg)