Selasa, 21 April 2026

Opini

Opini: Menantang Patriarki dalam Dialog Antaragama

Gagasan utama Kartini tentang kesetaraan derajat antara laki-laki dan perempuan menjadi dasar dari gerakan emansipasi perempuan. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI HERLINA HADIA
Sr. Herlina Hadia,SSpS 

Relevansi Semangat Kartini bagi Perempuan Indonesia

Oleh: Sr. Herlina Hadia,SSpS
Biarawati asal NTT yang sedang menyelesaikan studi S3 di Melbourne Australia.

POS-KUPANG.COM - Indonesia merupakan negara yang kaya akan keberagaman agama dan budaya. 

Dalam upaya menjaga harmoni di tengah kemajemukan tersebut, negara telah menetapkan berbagai regulasi serta membentuk berbagai wadah yang diharapkan mampu mewujudkan kerukunan antarumat beragama secara berkelanjutan. 

Para tokoh agama dalam berbagai level, seringkali mengadakan pertemuan, seminar, mengeluarkan deklarasi bersama, mengadakan kerja sama demi kepentingan kemanusiaan. 

Apakah perempuan dilibatkan? Jawabannya bisa ya dan bisa juga tidak. Sebab seringkali kehadiran perempuan hanyalah pelengkap dalam tatanan kepengurusan yang mungkin juga seringkali tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan.

Baca juga: Opini: Paradoks Hari Kartini 

R.A. Kartini, seorang pahlawan nasional Indonesia yang lahir di Jepara, Jawa Tengah pada 21 April 1879, tetap menjadi figur inspiratif dalam perjuangan perempuan hingga saat ini. 

Selain memperjuangkan kesetaraan akses pendidikan bagi perempuan, pemikiran Kartini juga dapat dipahami sebagai dorongan untuk keterlibatan perempuan dalam ruang publik secara lebih luas, termasuk dalam konteks dialog antaragama di Indonesia.

Gagasan utama Kartini tentang kesetaraan derajat antara laki-laki dan perempuan menjadi dasar dari gerakan emansipasi perempuan. 

Dalam konteks Indonesia kontemporer, perjuangan Kartini tidak lagi hanya dimaknai sebatas akses pendidikan, tetapi juga menyangkut keberanian untuk bersuara dan hadir secara aktif dalam ruang-ruang publik. 

Dalam kaitan ini, muncul pertanyaan reflektif: apakah perempuan saat ini telah benar-benar didengar dan diakui perannya dalam dialog antaragama di Indonesia? 

Meskipun semangat kesetaraan yang diperjuangkan oleh R.A. Kartini terus digaungkan, realitas dialog antaragama di Indonesia masih menunjukkan adanya ketimpangan yang cukup mencolok.

Dialog antaragama di Indonesia sering kali masih didominasi oleh laki-laki. Salah satu faktor utamanya adalah bahwa para tokoh dan pemimpin agama di berbagai tradisi keagamaan masih didominasi oleh kaum laki-laki. 

Kondisi ini turut memengaruhi komposisi dan dinamika dalam forum-forum dialog antaragama, sehingga suara perempuan sering kali kurang terwakili secara proporsional.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memperdebatkan atau memperjuangkan perempuan dalam posisi kepemimpinan religius formal. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved