Obituari
Nada yang Berdoa- Ketulusan dan Keharmonisan dalam Karya Sirilus Wali
Tuhan yang digambarkan Sirilus Wali adalah Tuhan yang mencintai dengan kerendahan hati, ketulusan, dan kasih.
Karena itu, “…kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat.10:8).
Inilah sepenggal ayat yang saya pikir menjadi sebuah senjata yang diimani oleh Bapak Sirilus beserta keluarga dalam mensyukuri hidup dalam sebuah bahtera keluarga.
Melangkah lebih dalam, bapak Sirilus adalah seorang musisi handal yang berasal dari NTT. Ia lahir pada 4 Februari 1965 di kampung Ndangakapa, Nangapanda, Kabupaten Ende.
Sejak lahir, ia hidup bersama dalam seni musik kampung sehingga membuatnya memiliki kepekaan diri yang kuat dalam hal bermusik. Karena itu secara tegas, ia mampu menampilkan euforia bermusik yang berjiwa kedaerahan.
Tidak hanya di situ, bapak Sirilus juga mampu membuat hasil arransemen yang indah dan bercorak lintas genre. Di sisi lain, banyak hasil karyanya pula yang tergolong dalam musik gerejawi.
Lagu-lagu misa yang ditampilkan memberikan suatu persembahan hati yang tulus lewat rangkaian nada-nada suci karena ia selalu mengawalinya dengan doa.
Doa menjadi gerbang yang membuka kehidupan di dunia dan di Surga, maka hasil lagu-lagunya menggaung sampae ke dalam hati setiap orang yang memuji dan memuliakan Tuhan.
Lagu-lagu itu seperti, “Yesus Sudah Bangkit Alleluya”, “Kami Membawa Persembahan”, “Yesus Sudah Lahir”, dan lainnya.
Selain itu, ia pandai menyusun sebuah gagasan musik yang berjiwa mars dan bergema di kalangan publik.
Hal ini didasarkan pada kepribadian yang rendah hati, tenang, sabar, dan menghargai kepercayaan dari orang lain.
Bisa dikatakan bahwa seorang Sirilus memiliki nilai jual karya yang rendah. Ia selalu menerima setiap permintaan (pertolongan) untuk membuat lagu dari sebuah instansi atau khalayak umum yang mempercayakan dirinya dalam hal ini.
Karena itu, tidak mengherankan jika hal demikian sejalan dengan apa yang ia maknai bahwa hidup adalah sebuah doa yang panjang.
Hemat saya, bapak Sirilus adalah figur Santo Yosef yang bekerja untuk menghidupi karya suci Allah dan melindungi harmonisnya kehidupan di dunia ini, terlebih menjaga keluhuran nama-Nya.
Demikianlah, bapak Sirilus melayani dengan cinta dan pengabdian secara total hingga pada akhirnya Tuhan lebih memilih dia untuk segera kembali masuk dalam paduan suara surgawi.
Kini sang maestro itu, Sirilus Wali namanya, telah pergi bukan hanya meninggalkan keluarga kecilnya, tetapi lebih dari itu menitipkan karya nada-nada suci di dalam hati orang banyak.
Dan, tidak heran saya dan kita semua tahu bahwa pusat dan puncak segala rindu manusia dan alam semesta ini adalag Tuhan Allah sendiri. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Marianus-Viktor-Ukat.jpg)