Obituari
Nada yang Berdoa- Ketulusan dan Keharmonisan dalam Karya Sirilus Wali
Tuhan yang digambarkan Sirilus Wali adalah Tuhan yang mencintai dengan kerendahan hati, ketulusan, dan kasih.
Oleh: Marianus Viktor Ukat
Mahasiswa semester 6 Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Sirilus Wali, nama yang pertama kali saya dengar melalui lagu-lagunya yang bernuansa rohani ketika menerima jubah (pakaian rohani) di Seminari Tinggi TOR Lo’o Damian, Atambua.
Lagu yang berjudul “Segala Jalanku Kau Maklumi” dan “Sungguh Indraku Tak Mampu Memahami”, adalah dua persembahan lagu yang menghantar kami untuk masuk ke dalam misteri Allah.
Waktu itu, dua lagu ini menjadi lagu paling memikat jiwa dan raga kami untuk mengatakan bahwa kami rapuh di hadapan Allah, Sang Pemberi Hidup.
Baca juga: Sirilus Wali: Musik dan Keindahan Abadi
Dalam nada-nada yang tertulis bersamaan dengan liriknya, terkesima sebuah tenunan harmoni yang khas akan hidup manusia sebagai peziarah di dunia ini untuk harus kembali ke hadapan Allah.
Tuhan yang digambarkan Sirilus Wali adalah Tuhan yang mencintai dengan kerendahan hati, ketulusan, dan kasih.
Ada sebuah doa yang terlintas lewat setiap syair dan melodi yang mengalun-mengantar setiap orang yang mendengar lagu-lagu ini kepada Allah.
Berkenaan dengan itu, keindahan dan keelokan musikal seorang Sirilus Wali menjadi jembatan harmoni antara dunia manusia dan dunia surgawi.
Menggabungkan tenunan surgawi dalam nada spiritual dan dunia dalam nada yang antroposentrime mengartikan sebuah mahakarya yang paling suci bahwa Tuhan sedang menganugerahkan rahmat yang tiada berkesudahan untuk membawa manusia menyelami misteri-Nya. Demikian, inilah bukti paling fenomenal dari mahakarya seorang Sirilus Wali.
Pada 17 Februari 2026, pukul 11.34 WITA, saya menerima sebuah pesan Whatshapp di Grup Sint Michael Choir, yang bertuliskan sebuah catatan singkat nan haru bahwa Bapak Sirilus Wali telah meninggal dunia di RS Aeramo, Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.
Sontak, saya terkejut dan kurang sungguh percaya akan peristiwa ini. Soalnya, selama ini dalam benak saya bahwa bapak Sirilus Wali sedang menjalani pemulihan diri dari sakitnya.
Tentu, ia akan segera pulih setelah selesai menyelesaikan konser bersama kami, Para Frater Seminari Tinggi St. Mikhael-Penfui dan Mahasiswi Prodi Musik-Unwira, dengan nama panggung: konser Trans Timor Barat “Calpestando La Terra Sostenendo Il Cielo”.
Namun, Tuhan punya rencana yang lebih mulia. Bapak Sirilus pergi meninggalkan Ibu Alfonsa, tulang rusuknya serta kedua buah cinta kasih, Renol dan Angel Wali.
Keluarga kecil ini merupakan gambaran harmonisasi hidup yang mendalam akan cinta dan harapan di dalam Allah.
Setiap mereka memiliki kekhasan yang berarti. Semuanya berpadu dalam nada syukur bahwa hidup ini adalah belas kasih Allah yang secara cuma-cuma agar manusia tetap hidup berdampingan dengan-Nya.
Karena itu, “…kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat.10:8).
Inilah sepenggal ayat yang saya pikir menjadi sebuah senjata yang diimani oleh Bapak Sirilus beserta keluarga dalam mensyukuri hidup dalam sebuah bahtera keluarga.
Melangkah lebih dalam, bapak Sirilus adalah seorang musisi handal yang berasal dari NTT. Ia lahir pada 4 Februari 1965 di kampung Ndangakapa, Nangapanda, Kabupaten Ende.
Sejak lahir, ia hidup bersama dalam seni musik kampung sehingga membuatnya memiliki kepekaan diri yang kuat dalam hal bermusik. Karena itu secara tegas, ia mampu menampilkan euforia bermusik yang berjiwa kedaerahan.
Tidak hanya di situ, bapak Sirilus juga mampu membuat hasil arransemen yang indah dan bercorak lintas genre. Di sisi lain, banyak hasil karyanya pula yang tergolong dalam musik gerejawi.
Lagu-lagu misa yang ditampilkan memberikan suatu persembahan hati yang tulus lewat rangkaian nada-nada suci karena ia selalu mengawalinya dengan doa.
Doa menjadi gerbang yang membuka kehidupan di dunia dan di Surga, maka hasil lagu-lagunya menggaung sampae ke dalam hati setiap orang yang memuji dan memuliakan Tuhan.
Lagu-lagu itu seperti, “Yesus Sudah Bangkit Alleluya”, “Kami Membawa Persembahan”, “Yesus Sudah Lahir”, dan lainnya.
Selain itu, ia pandai menyusun sebuah gagasan musik yang berjiwa mars dan bergema di kalangan publik.
Hal ini didasarkan pada kepribadian yang rendah hati, tenang, sabar, dan menghargai kepercayaan dari orang lain.
Bisa dikatakan bahwa seorang Sirilus memiliki nilai jual karya yang rendah. Ia selalu menerima setiap permintaan (pertolongan) untuk membuat lagu dari sebuah instansi atau khalayak umum yang mempercayakan dirinya dalam hal ini.
Karena itu, tidak mengherankan jika hal demikian sejalan dengan apa yang ia maknai bahwa hidup adalah sebuah doa yang panjang.
Hemat saya, bapak Sirilus adalah figur Santo Yosef yang bekerja untuk menghidupi karya suci Allah dan melindungi harmonisnya kehidupan di dunia ini, terlebih menjaga keluhuran nama-Nya.
Demikianlah, bapak Sirilus melayani dengan cinta dan pengabdian secara total hingga pada akhirnya Tuhan lebih memilih dia untuk segera kembali masuk dalam paduan suara surgawi.
Kini sang maestro itu, Sirilus Wali namanya, telah pergi bukan hanya meninggalkan keluarga kecilnya, tetapi lebih dari itu menitipkan karya nada-nada suci di dalam hati orang banyak.
Dan, tidak heran saya dan kita semua tahu bahwa pusat dan puncak segala rindu manusia dan alam semesta ini adalag Tuhan Allah sendiri. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Marianus-Viktor-Ukat.jpg)