Opini
Opini: Membaca Prapaskah sebagai Peristiwa Eksistensial
Prapaskah sering dipahami sebagai masa liturgis menjelang Paskah yang diawali dengan upacara penerimaan abu.
Transendensi membawanya keluar dari keterkungkungan diri menuju relasi yang memulihkan. Ketiganya tidak terpisah, melainkan saling menembus dalam satu gerak batin yang dinamis.
Tanpa derita, harapan menjadi dangkal; tanpa harapan, derita menjadi absurditas; tanpa transendensi, keduanya kehilangan arah.
Saatnya Berbenah
Bagi manusia modern yang hidup dalam budaya instan dan serba-cepat, masa Prapaskah hadir sebagai kritik yang sunyi dan tajam.
Masa Prapaskah mengajak kita untuk berbenah, menolak logika pelarian dari rasa sakit dan menghidupi keberanian untuk tinggal dalam proses.
Dalam dunia yang sering mengukur segala sesuatu dengan produktivitas dan efisiensi, masa Prapaskah menegaskan nilai keheningan, refleksi, dan kesetiaan.
Ia mengingatkan bahwa makna hidup tidak selalu ditemukan dalam keberhasilan lahiriah, tetapi dalam kedalaman relasi dan kesediaan untuk tetap berharap di tengah kegelapan.
Akhirnya, memahami masa Prapaskah sebagai peristiwa eksistensial berarti menyadari bahwa ia bukan sekadar rangkaian praktik religius tahunan, melainkan simbol perjalanan manusia sepanjang hidupnya.
Setiap manusia mengalami penderitaan, setiap manusia merindukan harapan, dan setiap manusia dipanggil untuk melampaui dirinya.
Dalam terang pemikiran Gabriel Marcel, perjalanan ini bukanlah perjalanan soliter, melainkan perjalanan dalam misteri kehadiran dan kesetiaan.
Prapaskah menjadi ruang di mana manusia belajar mengatakan “ya” kepada hidup, bahkan ketika hidup ditandai oleh luka, karena ia percaya bahwa di balik luka itu terdapat kemungkinan akan kepenuhan yang lebih dalam dan lebih abadi. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/RD-Jhoni-Lae.jpg)