Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Membaca Prapaskah sebagai Peristiwa Eksistensial

Prapaskah sering dipahami sebagai masa liturgis menjelang Paskah yang diawali dengan upacara penerimaan abu. 

Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI ROMO JHONI LAE
RD. Jhoni Lae 

Karena itu, penderitaan tidak bisa dipahami hanya dengan kalkulasi rasional; ia menuntut keterlibatan hati dan kesetiaan batin. 

Dalam kerangka masa Prapaskah, penderitaan tidak berhenti pada kesadaran akan kelemahan. Ia bergerak menuju harapan. 

Kedua, Harapan. Harapan di sini bukan optimisme dangkal yang menolak kenyataan pahit, melainkan keberanian untuk tetap percaya bahwa di balik kerapuhan ada kemungkinan pembaruan. 

Perihal harapan, Gabriel Marcel, mengatakan harapan bukanlah sikap pasif yang menunggu perubahan eksternal, melainkan sikap eksistensial yang berakar pada kepercayaan dan kesetiaan. 

Harapan adalah keterbukaan terhadap kemungkinan yang belum terlihat, optimisme terhadap masa depan yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia. 

Harapan sejati selalu bersifat transenden, karena ia melampaui perhitungan logis dan membuka ruang bagi kehadiran Yang Ilahi dalam diri manusia. 

Dalam terang ini, masa Prapaskah sebenarnya menjadi latihan kesetiaan: tetap berdoa di tengah kekeringan rohani, tetap berpuasa di tengah godaan, tetap percaya di tengah ketidakpastian. 

Harapan menjadi tindakan eksistensial yang menegaskan bahwa hidup memiliki makna lebih dalam daripada yang tampak di permukaan.

Ketiga, Transendensi. Transendensi adalah gerak melampaui egoisme menuju relasi yang lebih dalam; dengan diri sendiri, dengan sesama, dan dengan Tuhan. 

Gabriel Marcel menekankan bahwa manusia adalah makhluk relasional yang menemukan dirinya dalam persekutuan dan ketersediaan bagi yang lain. 

Ia menggunakan istilah disponibilite, yakni kesiapsediaan batin untuk hadir bagi sesama. 

Dalam semangat Prapaskah, transendensi terwujud ketika pertobatan tidak berhenti pada penyesalan pribadi, tetapi meluas menjadi solidaritas dan kasih. 

Puasa menjadi bermakna ketika ia membuka ruang bagi kepedulian terhadap yang miskin; doa menjadi autentik ketika ia melahirkan keterlibatan nyata dalam kehidupan sesama.

Dengan demikian, masa Prapaskah dapat dipahami sebagai drama eksistensial yang utuh. 

Penderitaan menyadarkan manusia akan keterbatasannya. Harapan menggerakkannya untuk tidak tenggelam dalam keputusasaan. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved