Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Membaca Prapaskah sebagai Peristiwa Eksistensial

Prapaskah sering dipahami sebagai masa liturgis menjelang Paskah yang diawali dengan upacara penerimaan abu. 

Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI ROMO JHONI LAE
RD. Jhoni Lae 

Oleh: RD. Jhoni Lae
Bertugas di Paroki St. Petrus Tukuneno-Keuskupan Atambua

POS-KUPANG.COM - Salah satu masa khusus dalam penanggalan liturgi Gereja Katolik adalah masa Prapaskah

Prapaskah sering dipahami sebagai masa liturgis menjelang Paskah yang diawali dengan upacara penerimaan abu. 

Tetapi bila direnungkan secara filosofis, masa Prapaskah tidak hanya berdimensi teologis-spritual semamata tetapi juga menguak corak eksistensial manusia, ketika manusia diajak bertamasya dengan realitas terdalam dirinya yakni penderitaan, keterbatasan, dan harapan akan pembaruan. 

Artinya bahwa masa Prapaskah bukan sekadar kewajiban religius atau litani lutugi gereja, melainkan ruang pengalaman di mana manusia memasuki drama keberadaannya sendiri. 

Sebab dalam Prapaskah manusia tidak hanya melakukan praktik-praktik asketis, tetapi juga dipanggil untuk menempuh perjalanan batin dari kerapuhan menuju keterbukaan.

Penderitaan, Harapan dan Transendesi

Paling kurang ada tiga dimensi eksistensial yang mejadi rujukan menemukan nilai masa Prapaskah yakni penderitaan, harapan dan transendensi.

Pertama, Penderitaan. Penderitaan merupakan pintu pertama dalam perjalanan “ke dalam” diri manusia yang cenderung menghindari penderitaan; menutupinya dengan kesibukan, hiburan, dan kenyamanan-kenyamanan tertentu. 

Di tengah dunia yang terlalu sibuk, masa Prapaskah justru mengundang manusia untuk berhenti, berjeda dan mengamini penderitaan secara jujur. 

Berpuasa, berdoa dan bersedekah merupakan tiga nasihat injili yang menandai kesediaan manusia untuk mengakui bahwa hidup manusia rapuh dan terbatas. 

Dalam kesadaran akan keterbatasan itulah manusia mengalami apa yang oleh para filsuf eksistensial disebut sebagai momen autentik: saat ia tidak lagi bersembunyi di balik kepalsuan, melainkan berdiri apa adanya di hadapan dirinya sendiri.

Dalam konteks ini, pemikiran Gabriel Marcel memberikan terang yang mendalam di mana ia membedakan secara tegas antara “masalah” dan “misteri.” 

Masalah adalah sesuatu yang dapat ditempatkan di luar diri dan dianalisis secara objektif; misteri adalah sesuatu yang melibatkan diri kita secara langsung dan tidak dapat direduksi menjadi objek. 

Maka penderitaan, bagi Marcel, bukan sekadar masalah yang harus dipecahkan, melainkan misteri yang harus dihayati. 

Dalam penderitaan, manusia tidak berdiri sebagai pengamat netral, melainkan sebagai partisipan yang terlibat sepenuhnya. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved